Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Dua Puluh Tiga

Gambar
Alasan Om Christ menyuruhnya pindah sekolah, selain karena jauh juga karena badannya sudah semakin kurus serta prestasi sekolahnya yang menurun tajam. Awalnya, ia selalu menolak, lalu dengan berbagai analogi yang diberikan oleh Om Christ, akhirnya ia akur. Meskipun pada awalnya ia keberatan dan tidak kerasan, lambat laun ia mulai betah di sekolah barunya. Akhir catur wulan ketiga yang dihadapinya pertama kali di sekolah barunya, ia mendapatkan nilai-nilai yang bagus. Om Christ senang melihatnya. Meskipun kembali dalam kenakalannya karena merasa teraniaya pindah sekolah, ia kerap bolos sekolah untuk mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan di beberapa tempat.

Menjelang Sembilan Belas Tahun

Gambar
Adakah yang salah pada sebuah keinginan? Ah, tentu saja tiada. Dan keinginannya adalah sekolah di MAn 2 Serang, sebuah sekolah berbasis agama, yang menjadi role model di kabupaten Serang saat itu. keinginannya tercapai, ia telah sekolah di MAN 2 Serang, sekolah impiannya. 
Rupanya, keinginan tak semudah kenyataan. Di sekolah barunya, padat dengan berbagai aktifitas. Selain itu, ia juga dibebankan dengan bisaya kos yang lebih mahal, berbanding ketika sekolah menengah pertama sebelumnya. Gajinya yang hanya Rp.60.000, tak mencukupi untuk biaya ongkos sehari-hari, membayar LKS (Lembar Kerja Siswa) juga beberapa buku pelajaran dan uang bulanan. Ia terengah-engah dalam kekurangan uang.

Delapan Belas Tahun

Ia mulai menapaki masa depannya, menyusun langkah-langkah kecilnya. Ia beranjak dewasa. Setahun di rumah kontrakan bersama dengan Om Benny, Om Davy dan Om Christ, akhirnya setahun pertama, mereka pindah rumah, karena kondisi kemanan di perumahan itu tidak selamat. Beberapa kali, rumah kontrakan tersebut dimasuki pencuri.  Om Benny kembali kos di perumahan Krakatau Steel, sementara Om Davy kembali ke Bandung.

Menuju Empat Belas Tahun

Gambar
Dia, masih berumur tiga belas tahun lebih. Ia pulang ke Cilegon bersama Bapaknya. Dari Tangerang, menuju Cilegon ia beberapa kali bertukar kendaraan, sebelum akhirnya, ia menaiki bus dari Kebon Nanas menuju kota Cilegon. Cilegon menyambutnya, dengan terik panas dan macamnya. Ia kini tak lagi di kampung, meskipun bukan kota besar, tapi Cilegon buatnya tetaplah berbeda dengan kampung halamannya.

Lima Belas Tahun

Gambar
Mendekati usia empat belas tahun...
Lebaran di rantau, untuk pertama kali bersama dengan keluarganya. ia merasa hampa, jauh dari kampung, tempat kelahirannya.
Hari-hari selanjutnya, ia habiskan di rumah di mana ia dan keluarganya bernaung di sebuah perumahan mewah, Krakatau Steel. Dengan bertelanjang kaki, ia sering mengajari adik bungsu lelakinya bermain bola. Tak jarang, kakinya sampai luka berdarah-darah. Tapi ia tak menghiraukannya. Ia dekat dengan adik lelakinya, sering juga ia meletakan adik lelaki di pundaknya dan membawanya ke sana ke mari.

Tiga Belas Tahun

Gambar
Pagi itu, ia berada di atas pohon kopi. Pohon kopi di belakang rumah, buahnya sudah mulai meranum dan siap dipetik. Lagi-lagi, karena badannya kecil ia selalu mendapat jatah bagian mengambil paling atas. Kadang, ia menggunakan sarung, dengan melilitkannya di leher dan mengikatnya, lantas bagian lain, ia ikat di bagian pinggang. Jadilah sarung sebagai kantong ajaibnya, untuk meletakan biji-biji kopi yang telah dpetiknya. Tapi memetik kopi dengan cara seperti itu, ada kalanya membawa dampak buruk. Semut-semut yang menyelinap di balik grombolan biji-biji kopi siap melahap dan menggigitnya. Tak jarang, sebelum habis ia menyelesaikan tugasnya, ia harus buru-buru turun dari pohon.

Masih Tiga belas Tahun

Gambar
Gadis kecil, dalam impian. Dia, masih berumur tiga belas tahun. 
Sebelum berangkat ke kota, neneknya memberi selembar uang yang ia simpan rapat di dalam dompetnya
Hari-hari pertama di kota, ia lalui dengan penuh gembira. Gembira karena melihat kota dan segala isinya. Esok paginya, ia memulai aktifitas bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Ia hanya bekerja membantu budenya. Tugasnya mulai dari yang kecil-kecil, seperti menyapu, mengepel dan lap-lap kaca jendela. Ia ingat betul, hari itu dengan memakai kaos biru lengan pendek dan celana panjang warna hitam, ia belajar menyapu dan mengepel lantai keramik di dalam rumah majikan. Sekali itu juga, ia mulai belajar menyapu dan mengepelnya. Di kampung, rumah neneknya ia hanya menyapu lantai tanah. Tak sekalipun ia pernah mengepel lantai. Kikuk, tentu saja. Dengan sebuah kain handuk kecil, ia mulai mengesot belajar mengepel lantai.

Fotogeniknya Kehidupan

“Kak, kenapa suka mengambil gambarnya Asrifah?”
Aku melirik Hanani, melihat gambar yang terpapar di layar kamera. Gambar Asrifah, yang kuambil sembunyi-sembunyi memang banyak. Aku suka mengambil gambar Asrifah, tentunya dengan alasan tersendiri.
Karena dia fotogenik.”

Cengengesan

Gambar
Pak JM dan Bu Dian, adalah sepasang suami istri. Mereka mempunyai anak semata wayang, Anaz namanya. Meskipun ia anak semata wayang, tapi kadang nasibnya terlihat malang. Kedua orang tuanya sibuk dengan bisnisnya, sampaikan mengurus anaknya pun tak ada waktu. pak JM dan Bu Dian lebih mempercayakan penjagaan anaknya kepada pengsauhnya. jadi, nasib si Anaz malang selalu melintang bersama dengan inang asuhnya.