Fotogeniknya Kehidupan

oleh Anazkia


“Kak, kenapa suka mengambil gambarnya Asrifah?”

Aku melirik Hanani, melihat gambar yang terpapar di layar kamera. Gambar Asrifah, yang kuambil sembunyi-sembunyi memang banyak. Aku suka mengambil gambar Asrifah, tentunya dengan alasan tersendiri.

Karena dia fotogenik.”

Hanani terdiam… ia kembali menekuni melihat gambar satu demi satu dalam kamera. Sementara, aku memikirkan jawabanku sendiri. Ah! Entah, jawaban itu kudapat dari mana. Padahal, aku tak tahu menahu tentang dunia kamera dan sejenisnya…

Aku jadi mengingat akan masa laluku. Di mana aku, adalah gadis kecil yang begitu takut berdepan dengan kamera, tapi justru saat remaja, aku sangat mengidamkan memiliki kamera.
***
Sewaktu aku kecil, aku mempunyai tetangga yang merantau di Jakarta. Menurut kaca mata kecilku, tetangga sebelahku itu terlihat sangat kaya. Mereka berjualan bakso di Jakarta. Setiap pulang ke kampung halaman, rupa-rupa barang dibawanya. Pun dengan kamera, tetanggaku, memilikinya. Padahal, kedua orang tuaku merantau juga, tapi tidak memiliki kamera. Jangankan memiliki kamera, diajak foto bersama pun, aku jarang.

Saat tetanggaku pulang ke kampung halaman, ketika mandi di sungai, atau sekedar jalan-jalan menyusuri sungai melihat air terjun, kadang mereka membawanya. Aku sering memandangnya, takjub pada benda kecil berwarna hitam itu.

Setiap kali mengambil gambar tatkala aku ada, aku pun turut serta diajaknya. Dengan perasaan takut, deg-degan aku mengikuti saja arahan mereka. Setelah beberapa lama, ketika foto-foto itu di cuci cetak, lagi-lagi aku semakin penasaran dengan benda mungil itu. Terbersit juga keinginan untuk memilikinya. Ah! Tapi, keluargaku tak mampu untuk membeli kamera tersebut. Jangankan untuk membeli kamera, sesekali untuk makan saja kadang tiada.

Pernah, suatu waktu ketika petang menjelang saat seharusnya sebuah keluarga menyiapkan makan malamnya, di rumahku justru tidak ada apa-apa. Lantas, Nenek dan Budeku menyuruh kami meminjam jagung kepada adik dari Nenekku. Kami berdua, aku dan Kakakku, menuju rumah adik Nenekku. Dari sana, kami membawa satu ikat jagung yang kami gendong bergantian. Sampai di rumah, Budeku menumbuk jagung tersebut. Butuh waktu lama, untuk menajdikan jagung sampai menjadi nasi. Maka membeli kamera, tak pernah ada dalam kamusku ketika itu.

Waktu berlalu. Beranjak remaja, saat aku sudah menyelesaikan sekolah dasar aku tidak meneruskan sekolah. Demi mengisi waktu luang, aku mengikuti Budheku nguli di sawah. Waktunya, dari pagi sampai tengah hari. Tempatnya tidak begitu jauh dari rumah. Yang membuatku senang, aku bertemu dengan beragam orang. Dari yang tua juga yang muda. Aku juga dapat mengenal teman-teman dari kampung sebelah. Selain itu, aku juga bisa menghasilkan uang. Saat itu (tahun Sembilan puluh limaan) bayaranku hanya Rp. 700 dan dibayarkan setiap minggunya. Kadang juga sepuluh hari sekali. Setiap mendapat bayaran, aku sisihkan uangku sebagian untuk Nenekku dan sebagian lagi untuk beli jajan sendiri. Dan bajet untuk membeli kamera, sama sekali tidak terpikirkan.

Merantau
Tidak lama di kampung, lantas aku merantau ke kota. Di kota, aku bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Majikanku yang pertama, sebuah keluarga muslim yang Bapak dan Ibunya sudah Haji. Di sana, aku hanya bertahan 6 bulan saja. Karena masih terlalu kecil dan aku juga sering menangis, mengingati kampung halaman juga teman-teman sepermainan. Dari situ, baru aku menyusul kedua orang tuaku.
Itulah kali pertama aku bekerja. Dan diteruskan dengan pekerjaan-pekerjaan selanjutnya di mana aku tetap menjabat sebagai pekerja rumah tangga. Beberapa kali pula, aku bekerja dengan majikan yang nonmuslim. Dari situ, aku belajar banyak hal. Tentang arti sebuah toleransi juga memahami arti perbedaan.

Kembali Sekolah
Dua tahun berlalu setelah kelulusanku dari SD (Sekolah Dasar) tak lama setelah itu aku justru kembali ke bangku sekolah. Dan kembalinya aku ke bangku sekolah, juga dibarengi dengan kembalinya aku menggeluti pekerjaan rumah tangga. Lagi-lagi, aku bekerja dengan majikan nonmuslim. Dan di sini aku kembali ditempah tentang arti dan memahami arti sebuah perbedaan keyakinan. Aku sekolah di Mts (Madrasah Tsanawiyah) yang notabene adalah sekolah beragama, sedangkan majikanku sendiri seorang nonmuslim.

Saat di sekolah inilah, aku kembali berkenalan dengan benda hitam mungil kecil, kamera. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti aku kadang sering membawa kamera ke sekolah meskipun ia hanya dapat meminjam. Dan aku, aku masih saja Ana yang dulu, yang takut dengan kamera tapi justru lebih senang memegang kamera. Sayangnya, aku tidak mempunyai uang untuk membeli kamera. Dan aku, begitu inginnya memiliki kamera Olympus, seharga Rp. 400.000. Kamera manual, yang menurutku sangat bagus saat itu.

Hampir lima tahun aku bekerja dengan majikanku. Selama itu pula, aku belajar banyak hal. Tak juga arti sebuah kerja keras tapi juga sebuah toleransi di mana kami berbeda keyakinan.
Kelas dua Aliyah, aku berhenti bekerja dengan majikanku. Meskipun sudah berhenti dengannya, tapi tidak memutuskan silaturahimku dengannya. Setelah itu, lagi-lagi aku tak juga bisa terlepas dari pekerjaanku sebagai pekerja rumah tangga. Sampai akhirnya membawaku ke tanah Malaysia.
2 Agustus, 2004. Tertulis di sebuah diari lamaku, “beberapa hari belakangan ini banyak surprise yang aku dapatkan. Pengen punya mukena, pengen dapet arisan dan pengen ke Malay. Gak tahunya, subhanallah… Alhamdulilah semuanya terkabul. Kalau ke Malay sih belum pasti”

Aku menemukan tulisan tersebut dua tahun lalu. Setelah keberadaanku di Malaysia. Di mana aku membawa hampir semua diari-diari lama. Terkejut saat melihat tulisan tersebut. Juga sempat membuatku tertawa terbahak-bahak dalam senyap seorang diri. Aku jadi ingat, setelah mendapat arisan, aku baru mampu membeli kamera. Sayangnya, bukan kamera Olympus seperti impianku dulu. Aku hanya mampu, membeli kamera Fuji Film dengan harga tak sampai Rp. 200.000.

Ke Malaysia, Mengenali Dunia Maya
6 Januari 2006, aku selamat terbang ke Malaysia. Menjadi seorang tenaga kerja wanita. Awalnya, ada ketakutan tersendiri saat baru tiba di tanah Malaysia. Pun ketika dari awal keberangakatan aku sudah memiliki perasaan was-was dan gundah. Dan nasibku, alhamdulilah… Bersyukur kepada-Nya di mana aku ditemukan dengan majikan yang baik.

Semenjak di Malaysia juga, aku mulai akrab dengan dunia maya. Awalnya hanya mengenali fasilitas e-mail. Kemudian, berlanjut kepada chatting, milis dan akhirnya menemukanku kepada dunia blogging. Pertama kali, aku aktif di blogspot. Dari sana, aku mulai merambah pertemanan dunia maya. Di mana kita bisa saling bercerita dan berbagi kata. Mengenali teman-teman semua dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ada yang Ibu rumah tangga, notaries, guru, pelajar, mahasiswa, PNS dan banyak lagi.

Lebih banyak lagi, ragam persahabatan yang kutemui. Di blog, selain berbagi cerita juga sesekali kami berbagi gambar. Dan ini kembali mengingatkanku akan kecintaan kepada kamera sejak beberapa tahun dahulu. Kadang, aku lebih sering meminjam kamera anak majikanku ketika menuju tempat-tempat tertentu. Mimpi memiliki kamera, masih tersimpan.

Setelah aku aktif di blogspot, tanpa sengaja aku justru aktif di multiply. Berbeda, antara di multiply dan blogspot. Banyak teman-teman blogspot yang menganggap multiply terlalu ekslusif, karena kalau tidak memiliki account di sana, kita tak akan bisa memberikan komentar. Awalnya, memiliki account di multiply hanya sebatas, “asal punya” tapi lama kelamaan, aku justru semakin betah di multiply. Dari multiply juga, aku mengenali Kompasiana.

Apalagi, ditambah dengan teman-teman yang kadang sering berbagi tentang perjalanannya juga gambar-gambar yang diupload. Semakin menambah keinginanku untuk membeli kamera. Ah! Lagi-lagi, aku bermimpi untuk memilikinya. Kali ini, keinginanku bukan lagi Olympus manual, seharga Rp. 400.000 tapi kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) Saat kuutarakan keinginanku kepada majikanku, terang-terangan majikanku menolak. Selain harganya yang mahal, majikanku juga mempertanyakan manfaatnya untukku. Aku kecewa… Meskipun dalam hati, aku mengaminkan juga kata-kata majikanku.

Hingga, pada suatu waktu aku sedang melakukan blogwalking di blogspot aku menemukan sebuah info tentang kursus dasar phootograpi. Aku, begitu exited. Mengabarkan kepada majikanku juga kembali meyakinkan majikanku supaya mengizinkan aku mengambil tabungan untuk membelinya. Dan, rupanya do’aku terkabul. Alhamdulilah…

Dan akhirnya, aku dapat membeli kamera… Dulu, ketika aku begitu menginginkan kamera Olympus seharga Rp. 400.000, tapi Allah justru memberiku lebih dari itu…
Sungguh, betapa fotogeniknya kehidupan...

0 komentar:

Posting Komentar