Masih Tiga belas Tahun


Gadis kecil, dalam impian. Dia, masih berumur tiga belas tahun. 

Sebelum berangkat ke kota, neneknya memberi selembar uang yang ia simpan rapat di dalam dompetnya

Hari-hari pertama di kota, ia lalui dengan penuh gembira. Gembira karena melihat kota dan segala isinya. Esok paginya, ia memulai aktifitas bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Ia hanya bekerja membantu budenya. Tugasnya mulai dari yang kecil-kecil, seperti menyapu, mengepel dan lap-lap kaca jendela. Ia ingat betul, hari itu dengan memakai kaos biru lengan pendek dan celana panjang warna hitam, ia belajar menyapu dan mengepel lantai keramik di dalam rumah majikan. Sekali itu juga, ia mulai belajar menyapu dan mengepelnya. Di kampung, rumah neneknya ia hanya menyapu lantai tanah. Tak sekalipun ia pernah mengepel lantai. Kikuk, tentu saja. Dengan sebuah kain handuk kecil, ia mulai mengesot belajar mengepel lantai.

Itulah pagi pertama ia bekerja pada sebuah tempat bernama kota.

Tapi apalah kelebihan anak seusianya dalam membersihkan rumah? Ia tak begitu cekatan, bahkan terkadang budenya turun tangan membantunya. Dan dia sendiri kadang juga lebih sering ikut membantu budenya di dapur. Sekedar mengupas bawang, menumbuk kacang atau sesekali memegang setrikaan. Meskipun tak begitu pandai.

Di rumah majikannya, memiliki sebuah warung yang menjual kebutuhan sehari-hari. Awal kedatangannya, majikan tidak memberikan izin untuk ia berada di warung. Biarlah ia bekerja membereskan rumah, kamar juga mencuci kamar mandi. Tapi sesekali, ia duduk di warung juga, menemani anak bungsu majikannya yang kadang menggantikan ibunya. Anak bungsu majikannya, usianya dua tahun lebih tua. Dia memanggilnya, Non Lucky.

Foto non Lucky bersama keluarganya, ia yang sedang menggendong anaknya. Foto aku ambil dari facebooknya

Pernah suatu pagi, ketika warung majikannya tengah ramai banyak pembeli. Majikan perempuannya tiada, hanya ada majikan lelaki dan budenya di rumah. Melihat majikan lelaki sibuk di warung, ia membantu majikannya. Mengambil barang, menghitung dan menjumlah harganya juga mentotalkan berapa kembaliannya di luar kepala. Setelah pembeli sunyi, majikan lelaki memujinya, katanya, ia cerdas dan pandai berhitung. Ia tersenyum dalam hati, kalau sekedar tambah dan kurang di SD nya ia pernah belajar, bukan karena ia pintar. Saat isterinya pulang, majikan lelaki mengabarkan kepandaiannya hari itu. Sejak saat itu, ia diberi kepercayaan untuk menjaga warung, selain pekerjaan rumah lainnya.

Di kota, banyak penjual berlalu lalang di depan rumahnya. Dari penjual bakso, ketoprak, bubur ayam, kerupuk, lontong sayur dan banyak lagi. Ia ingin sekali membeli bakso. Ia utarakan niatnya kepada budenya. Ujarnya, ia akan menggunakan uang yang diberikan oleh neneknya ketika ia akan menuju ke kota. Budenya mengiyakan saja, dan menyuruh gadis kecil itu keluar rumah dengan membawa mangkok. Karena terlalu lama sibuk meminta izin kepada budenya, tukang bakso sudah jauh meninggalkan depan rumah majikannya. Dia berteriak-teriak,

"Ommmm.... ommm..." Tak juga menoleh tukang bakso tersebut
"Pakkkk...!!! Pak...!!! Beli baksonya...!!." Masih tak menoleh. Lantas ia ditegur oleh majikan lelaki yang sedang mencuci mobil di depan rumah.
"Kalau mau beli, bukan begitu manggilnya. Tapi panggil dia, "Bakso...!!" Ia menuruti saja kata-kata majikan lelakinya, kemudian berteriak
"Bakso...!!! Beliiii...!!!."
Benar saja, tanpa diminta tukang bakso langsung balik kanan menujunya. Ah, penat tadi ia berteriak lantang dengan memanggil Om dan Bapak, tapi ia tak menoleh. Rupanya, harus dipanggil apa yang dijualnya. Kota, membuat ia merasa pelik.

Ada yang membuatnya bersedih setelah membeli bakso, ia diliputi perasaan bersalah. Bersalah karena telah menggunakan uang pemberian neneknya. Entahlah, ia merasa uang dari neneknya ibarat sebuah azimat. Maka ia simpan saja uang kembaliannya, dan berjanji tidak akan menggunakannya, kecuali amat sangat kepepet.

Tak lama berada di kota, ada perubahan pada tubuhnya. Pergelangan tangannya mulai ditumbuhi bintik-bintik merah, akibat gigitan nyamuk. ia merasa heran. Padahal, di kampungnya tak pernah seperti itu. Tak lama setelah itu, ia mengalami demam panas. Dibawanya ke dokter bersama dengan anak bungsu juga majikan lelakinya. Besoknya, ia rehat bekerja dan tak lama bapaknya menjemputnya. Ia pulang ke Cilegon bersama dengan bapak juga seorang teman bapaknya.

Dia pulang ke Cilegon, sampai sembuh penyakitnya dan kembali pulang ke tangerang bekerja dengan majikannya. Juga bersama dengan budenya.

Tapi sejak kepulangannya ke Cilegon, ia mulai berubah. gadis kecil itu tak lagi kerasan bekerja di rumah majikannya. Ia kerap menangis dan membuat budenya kesal. Padahal, ia hanya ingin kembali berkumpul dengan orang tuanya di Cilegon. Karena selama ini, amat jarang kesempatan berkumpul dengan keluarga lengkapnya bersama, Ibu, Bapak juga adik-adiknya. 

Akhirnya, ia diperbolehkan pulang. Hanya beberapa bulan ia bekerja di rumah majikannya. Ia ingat, gaji pertama di rumah tersebut sebesar, Rp. 60.000. Pertama kalinya, ia memegang uang dengan nilai besar, enam puluh ribu rupiah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cengengesan

Menjelang Sembilan Belas Tahun