Menjelang Sembilan Belas Tahun

oleh Anazkia


Adakah yang salah pada sebuah keinginan? Ah, tentu saja tiada. Dan keinginannya adalah sekolah di MAn 2 Serang, sebuah sekolah berbasis agama, yang menjadi role model di kabupaten Serang saat itu. keinginannya tercapai, ia telah sekolah di MAN 2 Serang, sekolah impiannya.  

Rupanya, keinginan tak semudah kenyataan. Di sekolah barunya, padat dengan berbagai aktifitas. Selain itu, ia juga dibebankan dengan bisaya kos yang lebih mahal, berbanding ketika sekolah menengah pertama sebelumnya. Gajinya yang hanya Rp.60.000, tak mencukupi untuk biaya ongkos sehari-hari, membayar LKS (Lembar Kerja Siswa) juga beberapa buku pelajaran dan uang bulanan. Ia terengah-engah dalam kekurangan uang.


Kepergian bapaknya juga membawa dampak sedih yang mendalam buatnya. Tak ada lagi permintaan bantuan ketika ia mengalami kesempitan uang. Ia, kebingunan dengan biaya sekolahnya yang semakin membengkak. Sampai menjelang catur wulan pertama, ia belum melunasi SPP selama empat bulan. Pikirannya kacau, memikirkan pelajaran juga keperluan biaya sekolahnya. Sampai akhirnya ia menebalkan muka untuk meminta uang kepada Om Christ sebesar Rp.75.000, sedang sisanya Rp.25.000, ia pinjam kepada seorang temannya.

Catur wulan pertama berlalu, ia menerima rapornya. Sungguh menyedihkan... Nilainya amat sangat pas-pasan, bahkan ada angka lima pada sebuah bidang studi. Om Christ menegur juga menasihatinya dan kalimat terakhirnya, ia diminta pindah sekolah...

Sedih, sedih yang teramat dalam. Ia harus pindah dari MAN 2 Serang. Tapi demi mendengar segala kebaikan dan keburukan, akhirnya ia akur dengan nasihat Om Christ dan Tante Leli (calon istrinya saat itu) Ia pindah dari MAN 2 Serang, ke sekolah terdekat dari rumah Om Christ, MAN Pulomerak.

Bukan dengan kerelaannya ia pindah sekolah, tapi dengan kesedihannya ia beranjak dari MAN 2 Serang. Sejak saat itu, ia mulai rajin berbagi kesedihannya di atas lembar-lembar kertas...

Sabtu, 31 maret 2001

Setelah kepindahanku dari MAN 2 Serang dan sekolah di MAN Pulomerak, aku sangat kecewa, kecewa sekali. bahkan aku sangat sedih, aku harus meninggalkan teman-temanku yang tidak mungkin lagi aku menemui orang-orang seperti mereka.

Kamis, tanggal 29 maret aku sudah bisa masuk ke MAN Pulomerak, tapi pas mau berangkat aku sangat sedih karena aku belum berpamitan dengan teman-teman kelas satu lima. Aku lari ke kamar mandi, menangis sambil berpikir. Akhirnya aku putuskan untuk ke MAN 2 berpamitan pada teman-teman sekalian minta maaf. Jam tuju aku berangkat dari Cilegon, sampai di Serang jam delapan. Waktu itu pelajaran Bu U'um, bidag studi matematika, jadi yah terpaksa aku potong dulu agar aku bisa pamitan dengan teman-teman. Sebenarnya sih udah banyak kata-kata yang aku persiapkan untuk perpisahan, eh pas udah di depan kelas aku malah grogi (sebenernya bukan grogi sih, tapi sedih)

Sesudah ngomong di depan sepatah dua patah, akhirnya aku bersalam-salaman dengan mereka semua. Yang pertama aku salaman , Mastiroh . Ah, aku sangat sedih, sediihhh sekaliii... akhirnya air mataku jatuh juga apalagi setelah melihat Eha, Aay, Ida dan Mulyani menangis ah... rasanya aku tak mau meninggalkan MAN 2, aku tak mau meninggalkan satu lima. Satu persatu, kusalami temanku, Ina, Dede, Bowi, Alim, Depi, Mustika, Suryati, Iha, Munayah, Atik, Amalia, Lina, Fentika, Eka, Isah, Eva, Amelia, Meti, fedilah, Efi, Badru, Ijul, Iyan, Irfan, Dedy, Agus, Hudri, Alam, Bukhori, leni, Imah dan juga Usman. Ya Allah, kalau aku inget itu semua, aku sedih sekali... Akankah aku bertemu mereka kembali, ya Allah?

Yah walaupun aku sekarang sudah mendapatkan teman-teman baru di MAN Pulomerak tapi aku (jiwaku) Masih berada di MAN dua. Jujur saja, aku masih belum betah di MAN Pulomerak. Walaupun aku bisa menyesuaikan diri, tapi aku masih belum betah. Mungkin ia memerlukan waktu yang sangat lama.

Ia mulai gemar menulis hariannya, tentang kesedihan juga kegembiraannya pada lembar-lembar diari. Di sekolah barunya, ia dikiran anak keturunan orang berada. Sebab ketika pertama kali ke sekolah barunya, diantar oleh Tante Leli, dengan membawa mobil sedan. Hanya kepada kawan dekatnya saja, ia bercerita, kalau sebetulnya, ia hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Dan tempo hari orang yang mengantarnya adalah majikannya. Temannya bengong...

Pun ketika ada hal tertentu Tante Leli harus datang ke sekolah, ia selalu bilang, bahwa ia adalah Kakaknya. 

0 komentar:

Posting Komentar