Foto

oleh Anazkia









baca selengkapnya

Link Lomba Menulis Asyik

oleh Anazkia

1. Pak Dhe Joko Menulis itu Butuh Konsistensi dan Kesabaran

2. Thumyesen Simanjuntak, Karena Menulis Saya Terbang ke Balikpapan

3. Ina Tanaya, Asyiknya Menulis Saat Menemukan Passion 

4. Ina Tanaya, Jadi Netizen Jurnalis Aku Diundang Presiden Jokowi

5. Thumyesen Simanjuntak, Katanya Penulis itu Berumur Panjang

6. Mukhotib MD, Menulis Kenapa Harus Kehabisan Ide

7. Mukhotib MD, Menulis, dari Bayar Kost, Kuliah dan Traktir Pacar

8. Thumyesen Simanjuntak, Aku Membaca, Maka Aku Menulis

9. Faisal Anshori, Secarik Konflik Ala Pers Kampus

10. Mukhotib MD, Menulis, Setelah Menumpang Kini Menerbitkan Media Sendiri

11. Iwan Setiawan, Menulis Membawaku Terbang

12. Iwan Sumantri, Menulis di Blog Bisa Membawa Berkah

13. Dian Nafi, Menulis Memutar Meraih Impian 

14. Dian Nafi, Menulis Membawa Saya Jalan-jalan

15. Dian Nafi, Menulis Merealisasikan Makna Nama Pemberian Orang Tua

16. Dian Nafi, Menulis Mempertemukan Kita Kembali dengan Idola

17. Pak Dhe Joko, Menulislah Seperti Ketika Sedang Jatuh Cinta

18. Kartika Eka, Mau Menulis, Ya Menulis Saja

19. Agus Oloan Naibaho, Menulis Melepaskan Diri dari Kungkungan Keterbatasan Ide 

20. Faisal Anshori, Benarkah Kamar Mandi Adalah Sumber Inspirasi Saat Menulis 

21. Diaz Setia, Menulis Sebuah Proses Pembebasan

22. Natalia Oetama, Terapi Kewarasan

23. Nanang Suryana, Ayo Tulis dan Terbitkan Bukumu Sendiri 

24. Muthiah Alhasany, Dengan Menulis, Bertemu Orang Hebat, Menjadi Orang Hebat

25. Thumyesen Simanjutak, Ceritaku dengan Indonesiana

26. Pungkit Wijaya, Menulis itu Ringan

27. Muthiah Alhasany, Menjadi Cerdas Karena Menulis 

28. Agus Oloan Naibaho, Memaksimalkan Kebahagiaan dengan Menulis

29. Diaz Setia, Menulis Menuju Pulang

30. Lilis Puspitosari, Menulis dan Self Talk

31. Iwan Sumantri, Menulis Kreatif dan Menarik Ada di Indonesiana

32. Nanang Suryana, Literasi Era Digital

33. Kartika Eka, Menulis itu Kebutuhan Lho!

baca selengkapnya

Link Lomba

oleh Anazkia

1. Mimpi Newbie Di Sepetang Bersama Blogger
baca selengkapnya

Selamat Berkurang Usia

oleh Anazkia

Jika rapal doa yang kulangitkan setiap masa tak ada namamu di sana, mungkin hari ini aku akan mengejanya. Andai baris kata yang kususun setiap saat pernah menggurismu, maka hari ini kupinta maafnya. Andai selama kita mengenal banyak lakuku yang tak kena, maka hari ini kumohon kau untuk memakkuminya.

Mungkin hari ini tak istimewa untukmu, tapi berpuluh tahun lalu, kehadiranmu tentu sangat istimewa untuk kedua orangtuamu. Ketika tangismu membahana, tentu saja kedua orang tuamu tersenyum gembira, bahkan mungkin ketiga abangmu.

Tatkala hari ini kau merasa banyak yang kau pinta tak selalu diberi oleh-Nya, mungkin Dia sudah selalu memberi apa yang kau butuhkan.

Ih, ini aku mau nulis rada-rada serius kok susah, yah? Otakku nggak nyampe :(((( hiks

Kak Ria Astuti harum mewangi sepanjang hari, selamat berkurang usia, semoga menjadi manusia yang semakin mulia. Mulia di sisi-Nya juga mulia untuk kedua orang tua dan tentunya mulia untuk yang lainnya. Juga untuk senyum dua puluh empat milyardnya :P

Udah, ah! Keder:P

Mau upload fotonya gsk bisa euiiii... Ol dari hape susah euiiii, hape mbajak pulak punya kakak :)))))
baca selengkapnya

Iri Sama Babeh

oleh Anazkia

Pernah nggak, sih, kita iri oleh hal-hal spele yang kelihatannya nggak penting banget? Kalau saya pernah, ya, pernah iri oleh hal yang enggak banget. Gimana gak enggak banget kalau yang saya iriin itu orang lain?

Jujur ini, saya pernah iri dengan Shasha. Eh, nggak cuman sama Shasha, tapi juga sama teman-teman komunitas canting. Irinya kenapa coba? Irinya itu.... Irinya itu... Karena, karena Babeh tuh kelihatan sayang banget sama mereka. Suwer! Suwer teu kewer-kewer kalau saya pernah iri.

Perasaan itu saya simpen dalam-dalam tentu saja, dan tak pernah memberitahukan kepada siapa-siapa. Kadang saya sering membicarakan Babeh dengan banyak teman, kalau Babeh itu keren, supel, terkenal di kalangan blogger dan yang pasti, Babeh banyak mengingat nama-nama teman blogger. Itu yang kadang membuat kami berdecak kagum. Tapi, tak sekalipun saya membuka suara dengan teman-teman, kalau saya menyimpan iri kepada Babeh oleh hal remeh temeh.

Tapi belakangan saya sadar, perasaan iri saya terlalu dibuat-buat. Sekali dua kali bertemu Babeh dan banyak kali bertemu, Babeh juga memperhatikan saya. Hahahaha... Lucu sekali saya ini, bahkan ketika acara CIMB sms banking, Babeh dari jauh sudah menegur saya. Di situ saya benar-benar sadar Babeh pun memperhatikan saya juga.

Dan malam ini, saya ngobrol sama Babeh via whatsapp. Saya curhat tentang akun twitter yang pake logo hibah buku. Ada banyak hal yang membuat saya tergugu membaca kalimat-kalimat Babeh yang jarang sekali saya dapatkan dari teman-teman lain. Saya terharu. Selain terharu, saya juga seperti dapat kekuatan baru.

Ah, udah menye-menyenya. Terima kasih, Babeh. Dan maafkan saya yang kerap berburuk sangka. #LangsungSungkemSamaBabeh :)

baca selengkapnya

Menulislah Dengan Kemauan Bukan Dengan Paksaan

oleh Anazkia

Di anazkia.com, entah sudah berapa lama aku nggak nulis. Sepertinya sudah lebih dari satu bulan. Hmmm... Keren banget! Kayaknya waktu terlama saya ndableg ngeblog. Tapi, meski nggak nulis di anazkia.com aku masih nulis. Pertama nulis untuk kerjaan dan ini hukumnya wajib banget :). Kedua, nulis status baik di facebook, twitter maupun whatsapp.

Nah, yang terakhir itu dahsyat banget. Aku bisa nulis sepanjang hari sesuka hati :/ iya, nulis OOT sana sini. Nggak jelas banget, yah? Etapi jangan anggap nggak jelas juga, sih. Dari obrolan di group itu bisa ke mana-mana.

Sebenernya, draft tulisan di anazkia.com itu udah banyak banget. Mendadak aku demen aja nulis di sini. Di kompasiana masih nulis sesekali. Entahlah, kadang sudah merangkai kata sebegitu rupa tapi tetap urung diteruskan.

Mungkin sebaiknya memang di sini dulu. Menulis, menepi, menyendiri, menulis apa saja semaunya tanpa ada yang membaca. Eh, iya semoga gak ada yang membaca. Kalau pun ada kok yah rajin banget :)))))

Sejak sabtu lalu, aku dibuai kegamangan dengan beberapa hal yang aku lakukan. Entah, entahlah aku begitu dirundung jenuh dengan apa yang kulakukan. Pergi, menjauh dan menghentikan semuanya itu yang terpikir di kepalaku.

Cerita dengan Kak Ria, ngambang tanpa ada penyelesaian. Meskipun dia menceritakan mimpinya di tahun 2014 dia hanya bercerita sedikit dan hal tersebut tak mampu menghidupkan booster di kepalaku.

Chipto, anak ini. Teman, sahabat dan saudara yang sudah lama saya kenali ini sangat peduli dengan kegiatan yang aku lakukan. Dia banyak support baik moril maupun materil. Tapi ada hal yang kadang membuatku enggan saat kerap ditanya "Visi Misi" Ah! Soalan itu membosankan buatku.

Kak Aip, sejak ngelihat dia dengan Dream Trigernya aku suka ngelihat tema-tema yang ditampilkan. Dan saat aku terjatuh lelah, tak jarang tanpa sungkan aku minta dia memberikan suntikan positif. Kalimat-kalimatnya kemarin bikin sukses aku mikir dan berpikir dengan sikap kekanak-kanakanku.

" Noh liat kiki, Liat mayang
Nanti mereka berpikir yang tidak2. Jangan labil ah, nanti di depan pasti ada sesal. Kamu itu orang hebat, penuh mimpi, just dont stop
Terserah kanas, konsekuensinya ngerti, kan? Kalau bosen matiin aja gadgetnya."

Dan berderet lagi kalimat-kalimat lain dari Kak Aip.

Senin kemarin, entah kenapa di saat kelelahanku berada di ujung tanduk pagi-pagi sekitar jam 9 pagi aku dapat email. Dengan subjek Jadi Narasumber TV Muhammadiyah aku terhenyak. Membaca lebih lanjut, rupanya aku diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam program Sakinah (Perempuan Inspiratif) tanpa sadar aku menangis haru. Sedih dan entah apalagi menjadi satu.

Aku langsung copy paste email tersebut kepada Kak Aip, Chipto, Bang Al dan Mas Trie Sungguh email senin pagi itu seperti sebuah tamparan buatku. Aku yang berada di titik terendah kejenuhan seperti disiram dengan kesejukan.

Ada satu hal yang membuatku menimang-nimang kalimat dalam undangan tersebut "Perempuan Inspiratif" Rasanya malu sekali membacanya. Nyata-nyata di saat aku lelah dan jatuh justru undangan ini datang. Subhanallah....

Aku ndheso, ya? Iya! Bahkan sangat!

Tapi aku percaya, mungkin Allah punya cara untuk kembali membangkitkan semangatku. Melalui Kak Ria, Chipto, Kak Aip, Bang Almas dan teman-teman semuanya di manapun. Kiki, Mayang, ah anak-anak itu. Mereka usianya jauh di bawahku, tapi kadang celoteh mereka yang membangkitkan booster di kepalaku.

Nulis berantakan yo ben.

Mereka, teman-teman yang aku temui itu sungguh luar biasa.

Bang Almas, teman, sahabat yang kadang menyebalkan dan menakutkan. Menyebalkan ketika dia nyinyir, meski kenyinyirannya kadang membuatku berpikir. Menakutkan ketika dia sudah ngomong panjang lebar. Iya, kadang aku langsung senyap ketika Bang Al sudah menulis panjang lebar di PM wa. Tak jarang, aku menganggapnya sedang marah, padahal esok-esoknya ketika kutanya ternyata idak :(

Haqi, semangat berbaginya kadang membuatku terharu dan bangga. Seorang pemuda yang haus akan sebuah komunitas di daerah Cilegon-Serang, saat aku mengenalkannya dengan Semestarian buatnya seperti bertemu oase di padang pasir. Ya, dia keren! Senang bisa mengenalmu, Qi.

Ah, nulis nggak jelas. Tadi aku iseng nanya ke Mbak Devi kenapa aku ndadak diundang jadi narsum? Katanya beliau menemukan aku di blog. Gubrakssss... Mahahaha.... Akoh maluuuuu. Pan aku sering banget nulis geje yaks? Hiks

Etapi, tapi aku nggak akan mengubah kedudulanku. Ini aku, ini duniaku. Kemarin aku iseng nambahin tentangku di anazkia.com. Nambahin imel ama twitter tanpa membuang tulisan lama sebelumnya.

Jadi, tetap. Tetap aku menulis dengan caraku, gayaku karena ini aku. Ah, sudahlah.... Nanti, kalau aku rajin insha Allah pengen nulis teman-teman di group satu demi satu. Etapi kalau Bang Al udah keseringan kelessss :/

baca selengkapnya

Empe saya pindah ke sini ajahhh, pan temen2nya belon banyak. Saya punya penyakit baru jew :( sudah unfriend beberapa teman di FB, yang kenal dari empe :(( huaaaa udah dua mingguan lalu, sih

oleh Anazkia

baca selengkapnya

Bandara KLIA

oleh Anazkia

Kuala Lumpur International Air Port

Jum'at 4 januari 2006

Inilah awal kedatangan saya ke Malaysia. First time jugak saya naik pesawat, jakun sangat, kan? Buat apa saya datang Malaysia? Buat kerjalah, tanya lagi buat pe? Hihihihi... Nah, saya datang Malaysia ni nak keje, samalah macam ramai kawan-kawan saya yang dari Indonesia. Nak mengais rezeki lah nak kata.

Nak tahu macam mana masa saya baru sampai kat Bandara, tu?

Time tu, saya terbang dari Indonesia pukul sembilan pagi dan sampai di Malaysia pukul 11 pagi. Eh tapi ari tu saya tengok jam kat hand phone. Rupa-rupanya, saya baru tahu dari orang yang duduk kat sebelah saya rupanya, Indoensia-Malaysia tu beda satu jam. Nah, masa dalam pesawat tu, yang duduk kat sebelah saya seorang lelaki. Setelah sembang sikit-sikit, rupanya dia orang Malaysia.

Turun dari pesawat, orang tu suruh saya ikut dia macam mana nak keluar dari bandara. Saya juga minta tolong orang tu suruh call calon majikan, mengabarkan kalau saya dah sampai. Nasib baik, orang tu tolong call majikan saya dan saya dapat kabar bahwa majikan sudah sampai kat bandara, tapi entah ada masalah apa tak boleh nak masuk ambik saya terus.

Saya ingat, nak keluar dari bandara tu senang aje. Rupanya, ia tak semudah yang saya bayangkan. Calon pekerja kena keluar dengan majikan atau agent yang mengambilnya. Tanpa ada majikan atau agent yang mengambil, kita tak boleh keluar. Maka, diamlah saya setelah itu,berbaur dengan teman-teman yang lain, menunggu majikan saya saya sampai.

Tunggu punya tunggu, rupanya majikan saya tak datang juga.

Saya sembang dengan akwan-kawan. Saya juga berpindah-pindah tempat duduk, berharap akan segera terjumpa dengan majikan. Masa tu saya tak ada duit sama sekali, semenjak pagi, hanya meminum teh yang dihidangkan oleh istri pak agent yang mengantarkan saya sampai di bandara Sokernao-Hatta. Beruntung saat saya membeli sekotak donat.

Kembali berkumpul dengan teman-teman yang lain, rupanya masih banyak juga yang belum dijemput oleh majikannya. Dan sama-sama belum makan tentu saja. Ada yang dahaga, sementara nak beli air minum pun tak tahu kat mana. Lagi pun satu, sebagian dari kami saat itu memang tak punya uang. Dalam hand bag saya, ada satu gelas air mineral yang dibagi kat dalam pesawat, tapi saya tak meminumnya. Saya keluarkan saja, saya bagi kat kakak yang dah dahaga sangat tu. Donat pun akhirnya kita makan sama-sama.

Menjelang tengah hari, saya jumpa dengan ibu majikan. Tapi, masih belum boleh keluar, sebab permit saya atas nama suami jadi karena Abah belum pulang kerja, amsih belum boleh keluarkan saya.

"Penat ibu cari-cari awak." Kata calon ibu majikan saya setelah saya berjumpa dengannya. Saya langsung mengulurkan salam dan menciumnya. Wajah ibu memang nampak penat, saya sengih je. Pas tu ibu tanya lagi,

"Awak dah makan ke belum?" Saya langsung menggeleng cepat-cepat. Dan ibu langsung mengulurkan uang RM.10 ke tangan saya. Setelah ibu memberikan uang, beliau kembali beredar dari situ, katanya ada kerja. Ibu juga berpesan nanti sore akan kembali lagi dengan abah.

Saya kembali mendatangi teman-teman saya, mereka bingung melihat saya kembali berkumpul bersama mereka.

"Eh, tadi majikan awak car. Awak pegi mana?" Tanya mereka

"Saya dah jumpa, tapi tak boleh keluar lagi. Sebab abah tak de sama." Jawab saya sambil terus bercerita bahwa majikan saya membagi uang RM. 10. Akhirnya, dengan uang RM. 10 tersebut saya dan teman-teman mencari tempat di mana bisa membeli makanan...

Bersambungggg, penat pulak tulis dalam bahasa melayu, kena pikir nyatanya, amsih banyak salah di sana-sini





baca selengkapnya