Lima Belas Tahun

oleh Anazkia


Mendekati usia empat belas tahun...

Lebaran di rantau, untuk pertama kali bersama dengan keluarganya. ia merasa hampa, jauh dari kampung, tempat kelahirannya.

Hari-hari selanjutnya, ia habiskan di rumah di mana ia dan keluarganya bernaung di sebuah perumahan mewah, Krakatau Steel. Dengan bertelanjang kaki, ia sering mengajari adik bungsu lelakinya bermain bola. Tak jarang, kakinya sampai luka berdarah-darah. Tapi ia tak menghiraukannya. Ia dekat dengan adik lelakinya, sering juga ia meletakan adik lelaki di pundaknya dan membawanya ke sana ke mari.

Tak ada kegiatan lain. Hanya sesekali membantu ibunya di dapur, itupun menunggu ibunya marah-marah. Tapi lama kelamaan, ia terbiasa dan mulai bisa sedikit demi sedikit belajar memasak. Waktu terus berlalu, usianya semakin mendekati empat belas tahun, tapi ia tak pernah menghiraukannya.

Sampai akhirnya, ia harus kembali merantau. Adik pemilik rumah, yang rumahnya sama-sama berada di pamulang, membutuhkan tenaganya. Pembantunya sedang pulang ke kampung halaman. Untuk ke tiga kalinya ia kembali menjadi pembantu rumah tangga. Ia pun kembali ke Pamulang...

Ia bekerja dengan adik pemilik rumah. Majikannya mempunyai dua orang anak, lelaki dan perempuan. Kakaknya, yang perempuan sudah masuk SD, sedangkan sang adik masih di TK. Selain mengerjakan pekerjaan rumah, ia juga diharuskan mengantar juga menjemput anaknya yang masih TK, menaiki sepeda. Sebelum adzan berkumandang, ia sudah terjaga dari lelapnya. Membereskan rumah, juga kerja-kerja lainnya. Sedangkan sarapan, majikan perempuannya yang menyiapkan.

Saat itu, majikannya menawarkan untuk ia bersekolah. Dia manut saja, juga merasa gembira dan mencari-cari sekolah terdekat dari rumah majikannya. Ia menemukan sekolah menengah pertama dari rumah majikannya, tapi ia ragu untuk mendaftar sekolah di Pamulang. Sampai akhirnya, ia menolak tawaran untuk di sekolahkan di Pamulang. Ketika itu, pembantu lama majikannya telah kembali pulang, jadi ia memilih untuk kembali pulang ke Cilegon. ia juga mendengar, kalau rumah yang di Krakatau Steel telah di sewakan kepada beberapa orang single. Jadi, saat itu orang tuanya mulai ada kesibukan lebih.

Ia pulang ke Cilegon. Diantar oleh majikannya sampai ke Kebun nanas. Seperti biasa, dari situ ia akan menaiki bus jurusan Merak.

Kembali ke Cilegon dengan aktivitas yang lain. Di rumah yang ia tempati, kini tinggal tiga orang bujang (ia memanggilnya Om Benny, Om Devy dan Om Christ). Mereka kos di rumah majikan kedua orang tuanya. Kakaknya, dari kampung juga sudah berkumpul di rumah yang sama. Mulai saat itu, mereka bahu-membahu bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah yang ada. Karena, tiga orang yang ngekos itu juga meminta mencucikan baju, juga makan di situ.

Selalu, ibunyalah yang sibuk memasak dan Kakaknya yang mencuci baju. Sementara ia, hanya membantu sesekali saja. 

Suatu ketika, tetangga seprofesi ibunya membawa serta anaknya dari kota Surabaya. Anaknya cantik, serupa dengan artis Nafa Urbach. Ia bersekolah, umurnya sama dengannya. jadi kepindahannya ke Cilegon juga dengan pindah sekolahnya. Temannya sudah kelas tiga. Dia, seharusnya juga duduk di kelas yang sama. Melihat ada yang sekolah, ia teringin. Ia mengutarakan niatnya kepada kedua orang tua juga Kakanya. Keluarganya tidak keberatan...

Akhirnya, dengan menggunakan uang gaji Kakaknya dari mencuci baju orang yang ngekos di rumah yang ia tempati, ia mendaftar sekolah. Setelahnya, ia tak lagi berhubungan dengan pekerjaan rumah kesehariannya, tapi ia mulai bergelut dan berjibaku dengan pena serta buku. Ia menduduki kelas satu sekolah menengah pertama pada usia, lima belas tahun. Di saat teman-teman di usia yang sama lainnya sudah kelas tiga. 

Kartu OSIS Aliyah, tapi make photo pas masih tsanawiyah

Ia mulai belajar, ia mulai menghapal, ia tak lagi memegang gagang sapu atau pel setiap harinya. 

Tapi, buatnya jalan kehidupan itu tak selalunya lurus...

Majikan orang tuanya sudah melepaskan hak kepemilikan rumah dan sudah mengembalikan kepada perusahaan, karena sudah ada orang lain yang akan menempatinya. Kelam kabut... Orang tuanya tidak memiliki rumah. Berbagai alternatif dibuat, pilihapun ditentukan. Ia bersama Kakaknya, ikut bersama dengan Om Benny, Om Davy dan Om Christ yang menyewa di rumah tak jauh dari prumahan Krakatau Steel. Sementara kedua orang tuanya mencari kediaman lain bersama dengan kedua adiknya.

Kembali, ia menggeluti pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Bersama Kakanya, ia membagi tugas. Pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia membantu mengemas rumah. Sementara mencuci dan menyetrika baju menjadi pekerjaan tetap sang Kakak. Dan sorenya, ia yang memasak.

Ada yang berubah dalam dirinya. Ia tak lagi semangat belajar, ia mulai malas-malasan. Bahkan, kerap ia meminta untuk berhenti sekolah sambil menangis di depan Om Christ.

"Om, Ana nggak mau sekolah."
"Lho, kenapa?"
"Pokoknya Ana nggak mau sekolah." Ujarnya sesenggukan. Tangannya sibuk menyeka air mata.
"Iya, tapi alasannya apa sampai Ana nggak mau sekolah?" Om Christ memburunya dengan berbagai soalan. Ditanya seperti itu, ia bingung, ia diam. Yang ada di benaknya saat itu adalah ia berhenti sekolah. Itu saja.

Besok dan besoknya, ketika pagi menjelang, ia akan meminta izin kepada Om Christ untuk memberikan restu supaya ia tidak bersekolah. Tapi, ketika permintaan itu ia utarakan, Om Christ selalu memberikan izin. Yah, Om Christ memberinya izin untuk tidak bersekolah. Anehnya, semakin diberi izin untuk tidak bersekolah, ia justru tak pernah bolos. Ia pelik dengan Om Christ.

Keluarga Om Christ dan Tante Leli kini

Hingga suatu malam, Om Christ memanggilnya. Memberikan ansihat juga wejangan. 

“Sekarang, Ana nggak apa-apa nggak sekolah. Tapi, coba lihat kalau Ana dah besar nanti, ilmu itu akan berharga.” Ia terdiam mendengar kalimat-kalimat Om Christ. “Banyak orang yang mau sekolah, tapi mereka nggak ada kesempatan. Jadi Ana harus bisa memanfaatkan kesempatan ini.” 

"Tapi kenapa kemarin Om Chris kasih izin biar Ana bolos?" Om Christ tersenyum mendengar pertanyaannya
"Terus kenapa juga Ana masih sekolah? Padahal Om dah kasih izin bolos?"
"Yah, Ana mikir kenapa Om mudah banget ngizinin bolos. Akhirnya Ana milih sekolah aja."
"Nah itu dia, kemarin tuh Om cuma mancing Ana. Ternyata, setelah diizikan membolos, Ana justru berangkat sekolah. Itu artinya, Ana masih punya semangat untuk belajar."  

Ia terdiam, tak berpikir sejauh itu. Esok dan esoknya ia tak lagi minta berhenti sekolah. 
****

"Om, makasih yah atas segala semangat juga dorongannya dulu." Ujarku, ketika itu dalam sebuah SMS.

"Ah, itu kan karena semangat dan kemauan Ana aja." Om Christ menjawab singkat. 

Jadi teringat sebuah nasihat yang selalu kusemat, "Belajar itu, ibarat mengumpulkan emas dari sebuah gunung. Mungkin saat mengumpulkan kita akan merasa penat dan lelah, tapi yakinlah, apa yang kita kumpulkan itu akan bermanfaat kelak di kemudian hari."

Pada setiap jalan yang kutempuh, Allah memberikan ujian beserta jalan penyelesainnya. Terimakasih ya Allah...

0 komentar:

Posting Komentar