Potret TKW Indonesia Di Malaysia

oleh Anazkia

Sabtu lalu, saya keluar rumah. Lama memerap diri dengan alasan kesibukan, lama juga aku tidak kemana-mana. hampir sebulan bt abis asli. Sebenernya, aku mau keluar hari sabtu pagi tapi, ka Huaida ada kursus yah, terpaksa deh gak ikut kajian pagi di Sungay Way. padahal dah lama gak ikut kajian...

adoiiii.... gak ada ide. tuluuunngggg... opo meneh tho...??? alah mangantuak aden... lalo...lalo... to be continue.. esok insya Allah....

2 komentar:

Posting Komentar

Karakter Tokoh

oleh Anazkia

                                
Umurnya, belum genap enam tahun. Tapi, terkadang ia lebih dewasa berbanding teman sebayanya. Ia begitu matang, tidak jarang kami memanggilnya dengan sebutan Emak Nenek. Karena kata-katanya terkadang seperti orang tua, mengatur dan menyuruh atau kadang sekedar memprotes.

Namanya Arwa, dia cucu majikan saya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini cukup pemberani, bahkan lebih berani dari abangnya. Bahkan sering abangnya menangis ketika Arwa tidak mau menemaninya naik atas saat mengambil buku atau baju. Juga begitu paham saat adiknya meminta semua yang dia pegang ataupun dia miliki. Meskipun sesekali dengan wajah cemberut dan merungut.

Dibandingkan sepupu sebayanya,  Arwa lebih bersikap dewasa. Tidak begitu manja dengan orang tuanya. Aku suka dengannya, aku juga sayang sama dia. Dulu, aku beranggapan Arwa tidak begitu bijak. Dia hanya pintar ESQ tapi, ISQ nya lemah. Soalnya kalau di ajarin hafal atau itung-itungan dia telat bisanya berbanding Nabila sepupunya.. Tapi, cengeng dan lainnya Arwa mampu menguasainya.

Dugaan ku meleset. Tenyata, Arwa juga pinter hitung-hitungan juga menghafal. Kadang, aku mengajarinnya doa-doa harian atau lagu hitung-hitungan. Ketika aku minta membaca di depanku, dia akan mengelak. Tapi terkadang tanpa di minta dia akanmembacanya tiba-tiba. Kalau aku tanya siapa yang mengajar, ringan aja dia jawab, “Ka Eli yang ngajar.”
Atau ketika aku di dapur, sayup-sayup terdengar suara Arwa menyanyi. Menyanyi lagu hitung-hitungan yang aku ajar. Dah namanya menghafal, kalau salah satu aja ya gak bakalan tahu terusannya. Kadang dia meleset, tiba-tiba bertanya kepada abangnya.  

Dia selalu konfius ketika membedakan antara orang tanya dan orang berkata. “Arwa, kalau orang tanya, ayatnya akan seperti ini, ‘Arwa lagi ngapain…???’ nah, itu namanya orang bertanya.”

“owh, gitu yah ka.” Mukanya lurus saja masih belum faham.

“Iya. Nah, kalau orang berkata, misalnya gini, ka Eli, tolong buatin susu untuk Arwa. Itu baru namanya Arwa berkata kepada ka Eli. Faham enggak?.”

“faham-faham.” Tersenyum gembira, seolah-olah sudah faham betul. 

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Arwa pun tunjuk kepandaian di depan sepupunya. Ketika sepupunya masih konfius dengan perkataan orang tanya dan orang berkata dengan semangatnya Arwa menerangkan seperti yang aku jelaskan sebelumnya. Ketawa juga aku mendengarnya. Dengan gaya bahasa yang seperti emak nenenknya seolah-olah, dialah yang paling pintar.

“Ka Eli, ambilkan tu.” Ujarnya menunjuk ke sebuah barang

“Gak mau. Wawa gak minta tolong sama ka Eli.”

“ambilah…”

“Gak mau, khan ka Eli dah bilang, minta tolong dulu baru ka Eli ambilin.”

“Minta tolong gimana?.”

“Bilang, ka Eli, tolong ambilkan mainan untuk Wawa. Itu baru namanya minta tolong.”

“Alah… ambilah…”

‘Ka Eli khan dah bilang minta tolong dulu.”

“Gimana ngomongnya…???” Waduh, anak ini dah di jelasin panjang lebar juga nanya lagi. “yang ka Eli bilang tadi.”

“Ka Eli, tolong ambilkan mainan tu untuk Arwa.” Dengan malu-malu dia berani juga mengucapkan kalimat itu. Sejak hari itu, apapun yang di inginkannya sama aku kata-kata tolong tidak pernah terlepas dari bibirnya. Anak kecil…

“Arwa, cepatlah makan.” Aku kesel juga kalau di suruh makan kadang dia buat-buat tak tahu.

“Gak mau makanlah. Takut gemuk kayak Mama.”

“Eh, siapa yang ngajarin kayak gitu?. Gak boleh gitu.”

“Alah… Wawa mau kurus kaya ka Eli.” Anak kecil sekarang, ada-ada aja. Masih kecil sudah mau menjaga badan, ini pasti pengaruh iklan dan juga cerita-cerita sinetron. Kalau dah gini, aku kadang marah-marahin dia. Sebenernya, ini Cuma alasan aja kalau dia gak mau makan. Tapi, yang lebih lucu, ketika ibunya makan banyak, dia akan komplain.

“Mama ni, makan banyak-banyak. Pantesan aja gemuk.” Ibunya nyengir aja di tegur kayak gini.
Kalau ada yang bersin di dekat dia, dia pasti akan ngoceh-ngoceh “Orang bersin tu harus baca doa.” Waduh, bener-bener emak nenek ni anak. Heran ama anak ini. Cerewet banget kadang, cape juga ngelihat segala kelatahnya. Ampyun dech

Sering juga dia menolongku mencuci pinggan ataupun menggosok baju. Meskipun sering aku menggosok semula dan mencuci lagi piring-piring yang dia basuh. Untuk menghargai sifat rajinnya, aku harus membiarkan saja dia bekerja. Sering juga dia membuat minum sendiri. Menyapu, beres-beres kalau ada yang tidak kena dengan seleranya.

Selain emak nenek, dia juga reporter yang baik. Pokoknya dia ngalahin Al-jazeera kali. Hal sekecil apapun apa yang dia lihat akan di laporkannya. Tapi, anehnya dia tidak akan melaporkan kesalahan dia kalau dia kena marah. Arwa-Arwa, namanya anak kecil, di sebalik kedewasaanmu, kamu tetaplah anak kecil. Yang kadang manja, juga mengada-ada.

3 komentar:

Posting Komentar

Sedih Melihat Nasib TKW

oleh Anazkia

Kalau tidak membuka tv-tv atau koran Indonesia jarang sekali aku melihat dan mengetahui penganiayaan tenaga kerja yang ada di Malaysia khususnya pembantu rumah tangga. Di sini, biasanya yang sering ada berita tentang TKW biasanya di harian metro Tapi, aku tidak selalu membacanya. Selain kesibukan, di rumah juga memang jarang beli metro.

Kalau di Indonesia, biasanya aku sering membuka SCTV. Di situ, sering sekali memaparkan nasib para TKW. Tak jarang temen-temen aku yang sering nanya, "kamu gak kaya yang di tv-tv itu khan..???" Aku jawab aja, "Alhamdulilah majikanku baik."

Kadang, mikir juga, gimana biar para TKW di Malaysia nih pada bersatu padu, pada ngumpul pada tuker informasi gitu. Khususnya para pembantu rumah tangga aku ada ide ga yah...??? sapa ada ide, woro...woro...woro... tolong kasih tahu aku

8 komentar:

Posting Komentar

Pembantu terbelakang, Pembantu di Belakang

oleh Anazkia

Kalau aku fakir-fikir, kayaknya pembantu itu terbelakang yah…?? Bagaimana tidak, setiap kali aku keluar rumah untuk mengikuti acara tertentu ketika aku menyebutkan aku seorang pembantu mereka pasti akan terkejut. “Ko boleh keluar-keluar sih?.” Jadi, kayaknya, pembantu itu wajib di dapur, tidak boleh keluar-keluar.

Dan kalau ku fakir lebih dalam lagi, di lihat dari sebab-sebab apa dan kenapa pembantu rumah tangga seolah-olah terbelakang adalah bagaimana penempatan pembantu itu bermula ketika ia di rumah majikannya. Mengingat lagi kebelakang, sewaktu awal-awal aku jadi pembantu. Sepertinya, setiap pembantu, kamarnya di belakang. Berdekatan dengan dapur dan sumur. Dan, hampir semua seperti itu. Kalau penempatan saja sudah di belakang, apa pemikiran pun harus terbelakang juga?

Pertama kali aku bekerja sebagai pembantu di Tangerang, di sebuah Perumahan. Kamar aku di tengah-tengan antara dapur dan kamar mandi. Kemudian, ketika Aku bekerja di pamulang kamarnya di atas sendirian, ini bermakna, di bawah sudah tidak ada tempat lagi jadi, di buatlah kamar di atas untuk pembantu. Itu bukan hanya aku temen-temen yang lain juga githu. Nah, kalau di perumahan KS (Krakatau Steel) lebih keren lagi, mereka di buatkan kamar di tepi rumah (deket dengan Garasi). Bukan jauh2 masih satu tembok tapi, ketika masuk ke kamar, mereka harus keluar dulu dari rumah majikannya.

Dari sini, apa aku masih mikir kalau pembantu itu harus terbelakang? Hmmm… Rasanya tidak! Ada sebuah pengalaman yang membuat aku berubah fikiran bahwa tempat pembantu yang di belakang tidak mewajibkan pembantu untuk bersifat terbelakang. Misalnya…??? Bermula mula saat aku membaca sebuah Majalah Remaja Islami di situ biasanya ada rubrik remaja berprestasi. Suatu ketika Majalah Annida mengangkat topik profile seorang pembantu rumah tangga yang berasal dari Hongkong. Subhanalloh, sungguh luar biasa ketika aku membaca baris demi baris kalimat itu, aku tidak percaya tapi, ia benar-benar nyata ada di Hongkong sana.

Tapi, yang aku lebih salut majikan pembantu ini subhanalloh, luar biasa baiknya. Kalo tidak salah, namanya Mbak Susan(ketua FLP Hongkong pertama tahun 2004) Mbak Susan, boleh menggunakan fasilitas apapun yang ada di rumah majiakannya dari telefon sampai internet. Setiap minggu, majikannya memberikan dia cuti. Dan yang aku masih ingat, kata-kata Mbak Susan adalah, ketika kita bekerja sebagai pembantu dengan majikan jangan asal yes boss aja. Nah, kalau di Hongkong khan tantangannya banyak banget tuh… Dari majikan yang melarang shalat, menyuruh memasak babi, melarang pakai jilbab pokoknya, 1001 masalah lainnya. Tapi, aku rasa Mbak Susan Nih orang yang bener-bener beruntung. Waktu itu, aku mimpiin banget punya majikan kayak gitu. Dan, setelah aku selidiki Dari berbagai majalah, ternyata kebanyakan pembntu di Hongkong memang lebih educated.

Mereka pembantu tapi, bisa intenet. Mereka pembantu tapi, bisa menulis dan menjadi seorang penulis. Mereka pembantu tapi, masih bisa berorganisasi. Mereka pembantu tapi, di sela-sela kesibukanya dalam mengurus rumah mereka masih bisa menuntut ilmu. Dan yang pastinya, mereka tidak terbelakang seperti yang aku fikirkan.

Ini menjadi motivator buatku, untuk merubah dan berubah supaya aku tidak merasa terbelakang. Aku berazam untuk bisa main internet seperti mereka. Aku mempunyai keinginan ingin seperti mereka. Yah, meskipun aku sadar mungkin itu membutuhkan waktu yang lama. Gimana enggak, aku waktu itu masih gaptek. Bersyukur dan beruntung ketika saat itu aku banyak memiliki teman-teman mahasiswa jadi, dengan mudahnya aku minta mereka mengajari aku. Lucunya, bukan mudah ketika aku harus mulai belajar itu semua.

Sampai ketika aku hendak ke Malaysia faktor utama yang aku harus kuasai adalah teknologi intenet. (biar kayak TKW Hongkong githu…) aku berfikir, biar tidak terbelakang, supaya kalau terjadi apa-apa mudah memberi tahu kepada orang lain. Alhamdulilah, meskipun dengan ilmu dan pengetahuan terbatas aku mampu juga menguasai teknologi internet. Dan aku, selamat terbang sampai ke Malaysia.

Terlepas dari pemahaman keterbelakangan ku, bahwa semua pembantu itu terbelakang aku juga membandingkan gimana sich orang Malaysia nempatin pembantunya ketika di rumah?. Aku mulai dari diriku sendiri yang baru pertama kali bekerja di Negara orang. Sebetulnya, susah ketika aku menilai tentang perlakuan majikanku pada awalnya. Aku sudah melihat kebaikan saat pertama kali bertemu dengan majikanku. Dan setelah sampai di rumahnya dan menunjukan kamarku, alhamdulilah, aku tidak di letakan di kamar “belakang” yang berdekatan dengan dapur.

Setelah aku teliti dan lihat, model-model rumah di Malaysia mereka kebanyakan rumahnya tingkat (orang Malaysia menyebutnya rumah teres) di mana mereka mengkhususkan tingkat atas hanya untuk kamar dan ruang istirahat. Dan di bawahnya, khusus untuk ruang tamu, ruang makan, dapur sebelum dapur ada kamar mandi dan kamar yang bentuknya lebih kecil. Aku ambil kesimpulan, “Sama aja di belakang dekat dengan dapur.” Bukankah kerja seorang pembantu itu di dapur?

Terlepas dari pandangan itu semua, aku ingin merubah imej keterbelakangan pembantu itu sendiri. Tak kira di mana kamar pembantu ia di tempatkan, sama ada di belakang, di depan atau di tengah yang penting, daya fikir dan cara fikir kita tidak terbelakang. Ibarat kata seorang pelajar di sebuah majalah remaja, “Berfikir seperti raja, bekerja seperti hamba” Mengikuti jejak-jejak para pembantu di Hongkong… (huhuhu..pengikut sejati )
Nyatanya, tidak semudah itu…??? Sepertinya sulit. Coba, sekarang aku melihat kondisi para pembantu yang ada di Malaysia. Di lihat dari latar belakang para pembantu sendiri kita datang dari bermacam-macam latar pendidikan. Terutama pendidikan formal. Tak jarang dari para pembantu sendiri yang tidak mengenal baca tulis. Terbukti ketika Aku tiba di Bandara kedatangan LCCT Sepang, ada beberapa ibu-ibu yang tidak bisa mengisi formulir kedatangan. Nah, ini satu punca “label keterbelakangan pembantu.”

Selain dari latar belakang yang berbeda, para pembantu (khususnya TKW di Malaysia) kebanyakan setelah datang dan bekerja dengan majikan di Malaysia mereka tidak mengetahui apa yang telah menjadi hak-haknya. Kita lebih banyak mengetahui kewajibannya saja yaitu, bekerja dan bekerja. Satu hak yang kita tahu adalah mendapat gaji, hanya itu. Nah, ini yang kebanyakan kita alami. Tanpa mengetahui hak-hak yang telah ada, kita seolah-olah biasa saja ketika hak-hak itu tidak di berikan padahal, hak-hak majikan sudah kita tunaikan.

Aku baru mengetahui tentang hak pembantu, setelah hampir tiga tahun kerja di Malaysia. Itupun, ketika Aku buka website imigressen Malaysia. Baru aku tahu, ternyata seorang pembantu tidak di perbolehkan mencuci mobil, bekerja lebih dari satu majikan, mendapatkan istirahat yang cukup, memberikan kebebasan beribadah kepada yang muslim (untuk yang majikannya China), tidak memasak babi (ini pun untuk orang China) Nah, nyata banget dari semua yang ada di atas, kebanyakan para majikan menyepelekan. Dan pembantupun tidak mau tahu. Akhirnya, terjadi ketimpangan di mana majikan dengan sewenang-wenang menyuruh ini itu tanpa melihat itu kerja pembantu atau bukan.

Mengutip kata salah seorang TKW Hongkong di sebuah Youtube, “Kita gak akan pernah tahu apa yang sudah menjadi hak-hak kita kalau kita tidak aktif mengikuti sebuah organisasi. Karena, ketika di agen, agen berpesan supaya ketika sudah bekerja tidak usah banyak bertanya. Yang penting kalian sudah kerja.” (Tapi, aku bukan dari agen jadi, gak tahu deh kalau di tanya gimana sech rasanya di penampungan…???) Tapi, aku juga datang dengan kebodohan juga, tanpa tahu apa-apa boro-boro tentang hak para pembantu.

Selain dari beberapa perkara di atas, banyak hal yang membuat para pembantu di lihat terbelakang (khususnya pembantu di Malaysia). Misalnya, masalah bahasa. Tidak semua yang datang ke Malaysia faham dan mengerti bahasa Indonesia. Nah, bahasa Indonesiapun tidak tahu, ini apatah lagi bahasa Melayu. Juga kedatangan para pembantu sendiri yang terkadang dari desa terpencil, tiba-tiba datang ke sebuah Bandar kita merasa terkejut dengan segala seuatu yang baru di temuinya. Kita bukan bekerja, malah banyak nontonnya, kita jadi exited dengan hal-hal yang baru kita jumpa (kalau kata bahasa sosiologi mah kayanya Culture Shock) atau ketika di suruh menggunakan alat-alat dapur yang semuanya menggunakan elektrik kita tidak bisa.

Ini yang banyak mengakibatkan penganaiayaan majikan terhadap pembantu. Majikan merasa kesal karena, mereka sudah membayar mahal untuk mengambil pembantu tapi pembantu sendiri, malah tidak bisa bekerja. Seperti kasus Nirmala Bonat (alhamdulilah, sekarang majikannya sudah di penjara 18 tahun, semoga setelah ini tiada lagi kasus penganiayaan TKW) Yin Pek Ha bilang (majikannya Nirmala) kalau Nirmala Bonat itu menganiaya diri sendiri dan dia “bodoh” dalam membuat kerja rumah. Nirmala Bonat menganiaya diri sendiri…??? Aku tidak percaya suer! Tapi, kalau dia “bodoh” dalam membuat kerja rumah aku sih percaya aja. Jangan ngibul deh Yin Pek Ha… please dech ah…

Dan, tidak semua majikan bisa menerima cara kerja pembantunya. Ada jenis majikan yang perfect semuanya mau sempurna atau malah kadang ada yang over protective ama kebersihan. Nah, kalau kita-kita yang dari kampung yang kadang bersifat sebodo teuing dengan kebersihan apa itu gak jadi bomerang dengan majikan?
Itu masalah majikan. Nah, kalau untuk pembantu sendiri, aku rasa karena banyak mendapat tekanan di luar kemampuannya para pembantupun jadi tertekan. Ini yang menyebabkan banyaknya kasus pembantu yang lari dari majikan. Mereka tidak peduli dengan resiko yang di tanggung, sama ada selamat atau di tangkap ama Polisi. Bahkan, tak sedikit pembantu yang dendam dengan majikannya sehingga tega berbuat jahat, sama ada mencuri, menculik anaknya atau bahkan membunuhnya. Naudzubilah…

9 komentar:

Posting Komentar

Aufa Tercekik

oleh Anazkia

Aufa semakin besar, semakin aktif. Lebih aktif dari abang dan kakanya juga, Nabila dengan Arif. Aku kadang cukup kewalahan juga kesel pun ada. Apalagi, kalau dia di ajak keluar huuuu bt banget asli harus kejar sana kejar sini, tangkap sana jatuh sini pokoke, ngebetin deh..

Sewaktu jenguk ka Mona di Rumah sakit, bukan main exited dia, kayak orang gak pernah keluar rumah lari-lari dalam bilik. Untung aja biliknya besar dan sendirian. Kalau enggak, wah, pesakit lain, bakalan kecoh tuh....

yang paling bikin bete, dia terguling-guling di atas lantai, bukan nangis atau ngambek tapi, sengaja main-mainan. Jakun binti katro, kayak orang gak pernah ketemu lanti bersih hiiii . Dah di larang pun dia buat semula. Nah, kita khan belum makan tuh, so belilah apa aja yang ada di kedai bawah. Dateng aja ke kamar ka Mona, langsung bantai makan, ih, asli malu-maluin banget githu lho, kayak orang kelaparan (emang lapar juga sebenernya)

Time kita makan, dia pun sibuk makan. Apalagi, dah makan sambil lari-lari (waktu itu dia gi duduk) tapi, kecapean kali yah? jadi, terbatuk-batuk lah dia. Nah, masa batuk2 nih, aku mo ambil foto dia yang lucu, eh, malah ke ambil yang dia gi tercekik githu.. Aku gelak bukan main. tante2nya juga ngomelin aku, katanya aku jahat. maaf lah Aufa, mungkin, ini akan jadi foto terlucu dalam hidup hehehe

8 komentar:

Posting Komentar