Dua Puluh Tiga


Alasan Om Christ menyuruhnya pindah sekolah, selain karena jauh juga karena badannya sudah semakin kurus serta prestasi sekolahnya yang menurun tajam. Awalnya, ia selalu menolak, lalu dengan berbagai analogi yang diberikan oleh Om Christ, akhirnya ia akur. Meskipun pada awalnya ia keberatan dan tidak kerasan, lambat laun ia mulai betah di sekolah barunya. Akhir catur wulan ketiga yang dihadapinya pertama kali di sekolah barunya, ia mendapatkan nilai-nilai yang bagus. Om Christ senang melihatnya. Meskipun kembali dalam kenakalannya karena merasa teraniaya pindah sekolah, ia kerap bolos sekolah untuk mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan di beberapa tempat.

Bahkan ia lebih rela mengambil uang gajinya untuk mengikuti salah satu pelatihan jurnalistik yang bayarannya lumayan mahal untuk kantong anak sekolah saat itu. Dengan beberapa teman-teman sekolah lain, ia berhasil mengunjungi kompas gramedia di Jakarta bersama dengan salah satu perguruan tinggi di Serang saat itu. Tapi ia tak sekalipun menulis, bahkan untuk mading sekalipun. Ia lebih gemar menulis di  buku harian.

Akhir tahun 2001, ia berhenti bekerja dengan Om Christ, karena ibunya kembali dari Pamulang dan tidak lagi bekerja di sana. Keluarga mereka memang belum memiliki rumah, Ia merasa tak enak hati, ketika terlalu banyak yang menumpang dengan Om Christ. Dan ia mulai kembali mencari majikan baru.

Jum'at, 05 Oktober 2001

Tanggal dua september, aku mulai tinggal di Krakatau Steel mengikuti Ibu Rizki. Menurutku, ibu Rizki orangnya baik. Walaupun banyak orang yang bilang katanya cerewet, pelit alhamdulilah selama ini aku tidak diberlakukan demikian. Walaupun kadang Bu Rizki marah, tapi aku memakluminya karena sebab Bu Rizki marah ya aku juga.

Pahitnya hidup untuk sekarang ini aku jalani (walaupun nggak pahit-pahit amat) Tekadku, minimal aku harus lulus SMU. Aku harus menunjukan kemampuanku kepada diriku sendiri (ngga harus ama dunia, soalnya kalau aku mampu dan bisa yang banggakan aku sendiri bukan dunia)

Meskipun akhirnya, ia hanya tiga bulan saja di rumah majikan barunya. Sungguh ia baru bertemu, dengan majikan yang sebegitu rupa kecerewetan dan kepelitannya. menghabiskan masa sekolah akhir aliyahnya, akhirnya ia mengikuti Kakaknya.

Beberapa tulisan, ada yang aku ambil dari diari lama, tanpa proses editing, biasanya yang tulisannya miring2

3 Rejab 1423H/ 9 september 2002

Hai ri, apa kabar? Maaf yah, lama aku baru buka-buka kamu, nggak marah kan? Ri, banyak kejadian-kejadian selama ini, tapi sayang yah, Ri aku nggak pernah menulisnya. Ya udah, Ri, Insya Allah mulai sekarang aku aktif deh curhat ke kamu (hehehehe)

Ri, sekarang aku dah kelas tiga, beda lho antara kelas tiga dan kelas dua. Aku ambil jurusan IPS, karena aku menganggap mampu menjalaninya. Padahal aku masuk kategori IPA lho, Ri. Tapi ya udahlah, yang penting aku bisa aja. Di kelas tiga, banyak kejadian-kejadian yang menyedihkan dan menyenangkan. Contonhnya, waktu agustusan kemarin temen-temen sekelas sempat berantem ma anak-anak kelas sebelah. Hal yang menyenangkan, aku mulai ngerti pelajaran akun, jadi aku suka pelajarannya. Selain itu, aku juga suka pelajaran sosiologi dan antropologi. Ternyata, enak yah masuk IPS itu, pengetahuan kita jadi banyak. Udah ah, kejadiannya aku mau nulis aktivitas hari ini aja.

Alhamdulilah, ia kembali meraih lulusan terbaik, meskipun hanya menduduki lagi-lagi tempat ke tiga

Dan, waktu pun berlalu. Ia berhasil menyelesaikan sekolah Aliyah dengan penuh susah payah.

****
"Eh, kalau kamu naik pesawat, kamu mau ke mana?"
"Kalau aku, mau nyusul ibu sama bapaku ke Banten."
"kalau aku, sih, mau nyusul  bapak sama ibuku juga ke Jakarta."

Mereka, pernah berkisah di masa kecilnya, tentang sebuah pesawat di atas pohon cengkih. Buatnya, adalah mimpi besar yang tak mungkin terlaksana menaiki sebuah pesawat.

****

6 januari 2006

Bandara Soekarno-Hatta, sebelum jam tujuh pagi.

"Eli, kamu ada uang?"
"Owh, ada, pak."
Ia cepat-cepat mengeluarkan uang dari tas kecilnya.
"Buat apa, Pak?"
"Udah, sini... Ini untuk kemudahan kamu aja kok."
Ia buru-buru menyerahkan uang Rp.20.000 ke tangan pak agent yang mengantarnya. Itulah satu-satunya uang yang dimilikinya. Tak ada lagi uang lain, hanya ada beberapa lembar uang seribuan yang kucel dan beberapa uang koin. Selembar uang dua puluh ribu dimasukan ke dalam passportnya oleh pak agent, lantas passport diulurkannya kepada petugas imigrasi. Selesai dengan semua urusan, akhirnya ia selesai dan keluar dari imigrasi menuju ruang tunggu pesawat.

Akhirnya, ia meniki sebuah pesawat. Ia bisa melihat awan lebih dekat, awan yang dulu ia ingin sekali menyentuhnya. Ah, mimpi barunya menghadang di depannya. Teringat kejadian sepuluh tahun lalu, ketika ia turun dari atas pohon kopi dan berlari-lari memanggil neneknya, karena melihat mobil panther berhenti di dekat rumahnya, itulah ia awal berkelana, dan saat itu, ia kembali memulai berkelana di negeri yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia kembali akan menekuni sebuah pekerjaan yang tak baru baginya, yang lagi-lagi, hanya sebagai pembantu rumah tangga...

****

6 januari 2006, bandara KLIA (Kuala Lumpur Internasional Airport)

Kali ini, tak seperti sepuluh tahun lalu.

Ia sampai di sebuah  bandara, yang besar. Tak serupa dengan Kebun nanas yang dilaluinya ketika berumur tiga belas tahun dahulu. Ia tercengang, dalam kebimbangan. Bimbang dan ketakutan akan bertemu dengan majikan barunya. Ternyata, ia tak sendiri, ada kawan-kawan lain yang senasib dan seperjuangan.

Ia sampai jam sepuluh waktu Indonesia, dan sudah jam sebelas waktu Malaysia. Duduk bergerombol, bersama-sama dengan teman-teman yang lain. Tentunya, ia berkumpul dengan teman senegrinya. Karena di situ banyak juga calon tenaga kerja dari negara lain, seperti, Filipina, Bangladesh dan juga negara lainnya.

Karena bertepatan dengan hari jum'at, dan nama majikan atas nama majikan lelakinya. Majikan lelaki tak bisa hadir pagi itu, hanya ada majikan perempuannya. Berlakulah kejadian yang lumayan rumit, ia tak bisa dibawa pagi itu, menunggu majikan lelakinya pulang kerja. Padahal, ia tak punya uang sedikitpun, ia juga belum makan sejak pagi. Ketika ia bertemu sesaat dengan majikan perempuannya, ia diberi uang RM.10 untuk membeli makan siang. Tak hanya dia saja yang tak makan, tapi juga teman-teman lainnya. 

Dengan uang RM.10 yang dimilikinya, ia mencari makanan. Ia ditolong oleh kebaikan seorang cleaning servis yang ia temui di toilet, ia dibelikan makan siang dengan uang RM. 10 yang dimilikinya. Ia juga diberinya satu botol besar air mineral. Ah, Allah selalu menolongnya pada setiap kesusahan.

Bersama dengan teman-teman lainnya, ia menyantap makan siangnya dua bungkus nasi dibagi sepuluh orang. yah, sepuluh orang... Ada Bu darminah dari Jawa Tengh, Mbak Sri Mulyaningsih dari Majalengka, Tory Tefa dari NTT, Bu Aisyah dari Jogjakarta dan beberapa teman yang lain.

****


Masih menggunakan falsafah lama, bahwa merasa kaya, bukanlah pada sebanyak mana harta yang kita punya, tapi pada sebanyak mana syukur kita kepada yang Maha Kuasa. karena kesehatan adalah rizki, karena teman yang baik juga adalah rizki. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang aku dustakan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cengengesan

Menjelang Sembilan Belas Tahun