Empe saya pindah ke sini ajahhh, pan temen2nya belon banyak. Saya punya penyakit baru jew :( sudah unfriend beberapa teman di FB, yang kenal dari empe :(( huaaaa udah dua mingguan lalu, sih

oleh Anazkia

56 komentar:

Posting Komentar

Bandara KLIA

oleh Anazkia

Kuala Lumpur International Air Port

Jum'at 4 januari 2006

Inilah awal kedatangan saya ke Malaysia. First time jugak saya naik pesawat, jakun sangat, kan? Buat apa saya datang Malaysia? Buat kerjalah, tanya lagi buat pe? Hihihihi... Nah, saya datang Malaysia ni nak keje, samalah macam ramai kawan-kawan saya yang dari Indonesia. Nak mengais rezeki lah nak kata.

Nak tahu macam mana masa saya baru sampai kat Bandara, tu?

Time tu, saya terbang dari Indonesia pukul sembilan pagi dan sampai di Malaysia pukul 11 pagi. Eh tapi ari tu saya tengok jam kat hand phone. Rupa-rupanya, saya baru tahu dari orang yang duduk kat sebelah saya rupanya, Indoensia-Malaysia tu beda satu jam. Nah, masa dalam pesawat tu, yang duduk kat sebelah saya seorang lelaki. Setelah sembang sikit-sikit, rupanya dia orang Malaysia.

Turun dari pesawat, orang tu suruh saya ikut dia macam mana nak keluar dari bandara. Saya juga minta tolong orang tu suruh call calon majikan, mengabarkan kalau saya dah sampai. Nasib baik, orang tu tolong call majikan saya dan saya dapat kabar bahwa majikan sudah sampai kat bandara, tapi entah ada masalah apa tak boleh nak masuk ambik saya terus.

Saya ingat, nak keluar dari bandara tu senang aje. Rupanya, ia tak semudah yang saya bayangkan. Calon pekerja kena keluar dengan majikan atau agent yang mengambilnya. Tanpa ada majikan atau agent yang mengambil, kita tak boleh keluar. Maka, diamlah saya setelah itu,berbaur dengan teman-teman yang lain, menunggu majikan saya saya sampai.

Tunggu punya tunggu, rupanya majikan saya tak datang juga.

Saya sembang dengan akwan-kawan. Saya juga berpindah-pindah tempat duduk, berharap akan segera terjumpa dengan majikan. Masa tu saya tak ada duit sama sekali, semenjak pagi, hanya meminum teh yang dihidangkan oleh istri pak agent yang mengantarkan saya sampai di bandara Sokernao-Hatta. Beruntung saat saya membeli sekotak donat.

Kembali berkumpul dengan teman-teman yang lain, rupanya masih banyak juga yang belum dijemput oleh majikannya. Dan sama-sama belum makan tentu saja. Ada yang dahaga, sementara nak beli air minum pun tak tahu kat mana. Lagi pun satu, sebagian dari kami saat itu memang tak punya uang. Dalam hand bag saya, ada satu gelas air mineral yang dibagi kat dalam pesawat, tapi saya tak meminumnya. Saya keluarkan saja, saya bagi kat kakak yang dah dahaga sangat tu. Donat pun akhirnya kita makan sama-sama.

Menjelang tengah hari, saya jumpa dengan ibu majikan. Tapi, masih belum boleh keluar, sebab permit saya atas nama suami jadi karena Abah belum pulang kerja, amsih belum boleh keluarkan saya.

"Penat ibu cari-cari awak." Kata calon ibu majikan saya setelah saya berjumpa dengannya. Saya langsung mengulurkan salam dan menciumnya. Wajah ibu memang nampak penat, saya sengih je. Pas tu ibu tanya lagi,

"Awak dah makan ke belum?" Saya langsung menggeleng cepat-cepat. Dan ibu langsung mengulurkan uang RM.10 ke tangan saya. Setelah ibu memberikan uang, beliau kembali beredar dari situ, katanya ada kerja. Ibu juga berpesan nanti sore akan kembali lagi dengan abah.

Saya kembali mendatangi teman-teman saya, mereka bingung melihat saya kembali berkumpul bersama mereka.

"Eh, tadi majikan awak car. Awak pegi mana?" Tanya mereka

"Saya dah jumpa, tapi tak boleh keluar lagi. Sebab abah tak de sama." Jawab saya sambil terus bercerita bahwa majikan saya membagi uang RM. 10. Akhirnya, dengan uang RM. 10 tersebut saya dan teman-teman mencari tempat di mana bisa membeli makanan...

Bersambungggg, penat pulak tulis dalam bahasa melayu, kena pikir nyatanya, amsih banyak salah di sana-sini





20 komentar:

Posting Komentar

Nak Buka E-mail

oleh Anazkia

Petang tu, saya baru saja selesai menyapu halaman depan rumah, mengaut daun-daun kering yang jatuh dari pokok rambutan kemudian membakarnya. Tepat di depan rumah, ada kebun rambutan, meski bukan milik sendiri, tapi kami kerap menggunakannya untuk meletak kereta. Tumpanglah nak cakap senang.

Dengan pengaut sampah dan penyapu yang masih ada di tangan, saya mendekati si Todek yang sedang leka di depan kompute, saja saya mengacaunya,

"Todek, nak tumpang bukak e-mail boleh, tak?" Tanya saya tersengih-sengih.

"E-mail? Akak ada e-mail ke?" Dia tercenung menatap saya.

"Hah, adalah. Ingat orang gaji tak boleh ada e-mail ke?" Saya masih tersengih menjawab soalan si Todek.

"Alah, akak, ni. Kacau jelah... Macam ada orang nak kirim e-mail je." Perlinya

"Eh, bukan lamapun nak buka e-mail. Setakat nak tengok, ada tak orang kirim e-mail kat saya. Lepas tu, tutuplah." Saya mula berdiplomasi. Ish, tak delah nak berdiplomasi, time tu, saya teringin je nak buka e-mail. Manalah tahu ada kawan saya yang kirim e-mail. Kan boleh untuk pelepas rindu.

"Iyalah.. iyalah..." Si Todek mengalah juga, membuka tab baru serta menuju sebuah laman sesawang yang menyediakan e-mail cuma-cuma.

Perlahan, saya membuka e-mail. Menuliskan id, kemudian menuliskan passwod. Tak lama melihat-lihat e-mail, lepas tu saya akan kembali mengerjakan pekerjaan lain yang sudah menunggu.

Sebelum beredar dari ruang komputer, tiba-tiba si Todek bertanya soalan

"Siapa ajar akak buat e-mail?"

"Kawanlah, dulu masa saya tengah belajar lagi kat SPM, sementara dia dah kuliah."

"Kuliah? Maknanya kawan akak tu orang kayalah?" Si Todek wajahnya terpinga-pinga bertanya.

"Eh, ingat saya tak de kawan yang belajar ke? Kawan saya ramai belajar kat university, saya je tak bernasib baik, tak mengenyam pendidikan tinggi sampai kuliah." Aih, tak sangka pulak akan dapat soalan pelik macam ni.

"Owh, iye ke?"

"Ho'oh, lah. Ingat orang Indonesia tak de yang boleh nak sambung belajar ke? Lagipun, bukan semua yang belajar kat university tu orang kaya." Saya cuba menjelaskan. "Eh, dahlah, nak buat kerja lain ni. Timekasih dah bagi masa buka e-mail." Saya meninggalkan Todek sendirian di depan meja komputer.

Dalam hati saya berpikir, agak-agak, ramai orang Malaysia berpandangan sama kot, kalau orang Indonesia tu ramai yang miskin papa kedana sampai tak boleh nak kuliah. Itulah kenapa ketika saya cakap ada kawan saya yang belajar kat U si Todek anak bungsu majikan saya macam terkejut beruk je. Ah, tak kisahlah orang nak cakap apa. Sama macam peliknya si Todek saat saya cakap mula-mula boleh akses internet. Dia macam pelik je.

"Saya belajar internet dulu sebelum datang ke mari." Itulah jawaban saya suatu hari saat dia menanyakan kenapa saya boleh akses internet.

16 komentar:

Posting Komentar

Bakalan pindah ke sini, buat nulis hal-hal yang gak penting. Lah, selama ini emang yang ditulis penting gitu? :D

oleh Anazkia

15 komentar:

Posting Komentar

[J50K] #SerialTwitter [Kampus Hijau]

oleh Anazkia

Kampus Hijau, begitulah mahasiswa menyebutnya. Universitas Kehidupan, yang berada di Jalan Ijo itu terletak tak jauh dari sebuah perkampungan. Terdengar unik, bukan? Ketika sebuah kampus berada di sekitar perkampungan warga? Tapi itulah kenyataannya, sebuah kampus swasta yang didirikan oleh saudagar kaya dari tanah Riau, Pak Attaya. Beliau mendirikan kampus berkonsepkan alam. Katanya, kampus hijau yang berkonsepkan alam itu harus dekat dengan perkampungan, meski ia lebih menjorok ke dalam. Kesannya jauh dari peradaban dan kota, tapi kalau kita masuk ke dalamnya barulah melihat perbedaannya.

baca selengkapnya

17 komentar:

Posting Komentar