Karakter Tokoh

oleh Anazkia

                                
Umurnya, belum genap enam tahun. Tapi, terkadang ia lebih dewasa berbanding teman sebayanya. Ia begitu matang, tidak jarang kami memanggilnya dengan sebutan Emak Nenek. Karena kata-katanya terkadang seperti orang tua, mengatur dan menyuruh atau kadang sekedar memprotes.

Namanya Arwa, dia cucu majikan saya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini cukup pemberani, bahkan lebih berani dari abangnya. Bahkan sering abangnya menangis ketika Arwa tidak mau menemaninya naik atas saat mengambil buku atau baju. Juga begitu paham saat adiknya meminta semua yang dia pegang ataupun dia miliki. Meskipun sesekali dengan wajah cemberut dan merungut.

Dibandingkan sepupu sebayanya,  Arwa lebih bersikap dewasa. Tidak begitu manja dengan orang tuanya. Aku suka dengannya, aku juga sayang sama dia. Dulu, aku beranggapan Arwa tidak begitu bijak. Dia hanya pintar ESQ tapi, ISQ nya lemah. Soalnya kalau di ajarin hafal atau itung-itungan dia telat bisanya berbanding Nabila sepupunya.. Tapi, cengeng dan lainnya Arwa mampu menguasainya.

Dugaan ku meleset. Tenyata, Arwa juga pinter hitung-hitungan juga menghafal. Kadang, aku mengajarinnya doa-doa harian atau lagu hitung-hitungan. Ketika aku minta membaca di depanku, dia akan mengelak. Tapi terkadang tanpa di minta dia akanmembacanya tiba-tiba. Kalau aku tanya siapa yang mengajar, ringan aja dia jawab, “Ka Eli yang ngajar.”
Atau ketika aku di dapur, sayup-sayup terdengar suara Arwa menyanyi. Menyanyi lagu hitung-hitungan yang aku ajar. Dah namanya menghafal, kalau salah satu aja ya gak bakalan tahu terusannya. Kadang dia meleset, tiba-tiba bertanya kepada abangnya.  

Dia selalu konfius ketika membedakan antara orang tanya dan orang berkata. “Arwa, kalau orang tanya, ayatnya akan seperti ini, ‘Arwa lagi ngapain…???’ nah, itu namanya orang bertanya.”

“owh, gitu yah ka.” Mukanya lurus saja masih belum faham.

“Iya. Nah, kalau orang berkata, misalnya gini, ka Eli, tolong buatin susu untuk Arwa. Itu baru namanya Arwa berkata kepada ka Eli. Faham enggak?.”

“faham-faham.” Tersenyum gembira, seolah-olah sudah faham betul. 

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Arwa pun tunjuk kepandaian di depan sepupunya. Ketika sepupunya masih konfius dengan perkataan orang tanya dan orang berkata dengan semangatnya Arwa menerangkan seperti yang aku jelaskan sebelumnya. Ketawa juga aku mendengarnya. Dengan gaya bahasa yang seperti emak nenenknya seolah-olah, dialah yang paling pintar.

“Ka Eli, ambilkan tu.” Ujarnya menunjuk ke sebuah barang

“Gak mau. Wawa gak minta tolong sama ka Eli.”

“ambilah…”

“Gak mau, khan ka Eli dah bilang, minta tolong dulu baru ka Eli ambilin.”

“Minta tolong gimana?.”

“Bilang, ka Eli, tolong ambilkan mainan untuk Wawa. Itu baru namanya minta tolong.”

“Alah… ambilah…”

‘Ka Eli khan dah bilang minta tolong dulu.”

“Gimana ngomongnya…???” Waduh, anak ini dah di jelasin panjang lebar juga nanya lagi. “yang ka Eli bilang tadi.”

“Ka Eli, tolong ambilkan mainan tu untuk Arwa.” Dengan malu-malu dia berani juga mengucapkan kalimat itu. Sejak hari itu, apapun yang di inginkannya sama aku kata-kata tolong tidak pernah terlepas dari bibirnya. Anak kecil…

“Arwa, cepatlah makan.” Aku kesel juga kalau di suruh makan kadang dia buat-buat tak tahu.

“Gak mau makanlah. Takut gemuk kayak Mama.”

“Eh, siapa yang ngajarin kayak gitu?. Gak boleh gitu.”

“Alah… Wawa mau kurus kaya ka Eli.” Anak kecil sekarang, ada-ada aja. Masih kecil sudah mau menjaga badan, ini pasti pengaruh iklan dan juga cerita-cerita sinetron. Kalau dah gini, aku kadang marah-marahin dia. Sebenernya, ini Cuma alasan aja kalau dia gak mau makan. Tapi, yang lebih lucu, ketika ibunya makan banyak, dia akan komplain.

“Mama ni, makan banyak-banyak. Pantesan aja gemuk.” Ibunya nyengir aja di tegur kayak gini.
Kalau ada yang bersin di dekat dia, dia pasti akan ngoceh-ngoceh “Orang bersin tu harus baca doa.” Waduh, bener-bener emak nenek ni anak. Heran ama anak ini. Cerewet banget kadang, cape juga ngelihat segala kelatahnya. Ampyun dech

Sering juga dia menolongku mencuci pinggan ataupun menggosok baju. Meskipun sering aku menggosok semula dan mencuci lagi piring-piring yang dia basuh. Untuk menghargai sifat rajinnya, aku harus membiarkan saja dia bekerja. Sering juga dia membuat minum sendiri. Menyapu, beres-beres kalau ada yang tidak kena dengan seleranya.

Selain emak nenek, dia juga reporter yang baik. Pokoknya dia ngalahin Al-jazeera kali. Hal sekecil apapun apa yang dia lihat akan di laporkannya. Tapi, anehnya dia tidak akan melaporkan kesalahan dia kalau dia kena marah. Arwa-Arwa, namanya anak kecil, di sebalik kedewasaanmu, kamu tetaplah anak kecil. Yang kadang manja, juga mengada-ada.

3 komentar:

  1. Lagi-lagi, paosting tugas menulis :( akhir2 ini agak sibuk :(. Jarang buka MP dech..:(

    BalasHapus
  2. BTW, buat my sifu thank you soo much atas kritiknya, semoga tambah semangat nulis lagi :)

    BalasHapus
  3. Aku udah posting hadiah!!! hahaha megikuti saran mu aku jadikan anak ku jadi tokoh dalam tulisan ku huhu thanx ya say tinggal menunggu penilaian, semua sudah beres!! Tapi pengen benerin tulisan ku bulan kmrn neh.... btw dirimu ternyata anak2 juga ya tokoh nya wehehe.. iya smoga our Shifu tak bosan dgn kita, ya jangan lah orang udah di bayar juga :))

    BalasHapus