Sejauh Yang Dijangkau


Rasanya, ingin mengemas semua baju, memasukannya ke dalam tas, lantas berjalan sejauh mungkin. Ramadhan tanpa persiapan, membuat saya kalah di awal permulaan. Berharap, ketika berjalan itulah saya menemukan apa juga bagaimana. Ah, kadang, selalu bahkan sering saya merasa begitu rapuh yang ujung-ujungnya adalah keluh :((

Bener-bener jadi orang yang labil. Padahal semuanya nggak usah dicari, padahal semuanya nggak usah jauh-jauh. Tinggal menilik  hati yang sedang sakit, periksa penyakitnya, apa aja yang bersarang di sana *kembali mengeluh. Menyadari kekurangan melihat flkutuasi iman, duh, saya benar-benar berada ditingkat terdasar futur. Innalillahi.

Lantas sejauh manakah saya harus berjalan? Ah, tak usahlah berjalan terlalu jauh. Jalani saja sementara apa yang ada, berkaca pada cermin, mawas diri. Lalu layaknya berkaca pada cermin, berkacalah pada nurani. Menelusuri peta hati. Eh, saya mulai ngaco :((

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cengengesan

Menjelang Sembilan Belas Tahun