Malaysia Is My Last Destination

Ku susuri jalan demi jalan, berdiam dari satu rumah ke rumah lainnya, berganti dari majikan yang satu kemajikan yang lain. Tanpa terasa, sudah 13 tahun aku melaluinya. Sungguh waktu yang amat panjang ketika ia berbentuk penantian. Tapi, ku lewati ia sebagai perjalanan hidupku. Perjalanan yang kelak aku yakin ia membawa pelajaran buatku.

Bermula saat aku masih berumur 13 tahun. Keadaan dan kesempitan ekonomi membuatku memaksa mengubur dalam-dalam keinginan untuk melanjutkan sekolah. Meskipun orang tua melarang aku untuk bekerja, apalagi sebagai seorang pembantu rumah tangga tapi, tekad ku tak pernah pupus. Waktu itu aku tinggal di Jawa dengan neneku, sedang kedua orang tuaku tinggal di Cilegon.

Ketika itu, aku yakin betul aku masih belum mampu bekerja secara sempurna. Menyapupun tidak betul, apalagi mengepel. Beruntung ketika aku bekerja satu rumah dengan Budeku. Lucu, ketika aku harus menyapu dan mengepel lantai keramik. Maklum, di kampungku masih menggunakan lantai alami, alias tanah saja. Sampai sekarang, aku masih mengingat dengan lengkap alamat rumah yang pertama kali aku bekerja.
Tapi aku tidak bertahan lama, aku masih sering menangis mengingati keluarga. Akhirnya aku pulang ke Cilegon. Dari situ pun aku masih kembali menjadi pembantu rumah tangga. Bahkan, aku bekerja lebih jauh. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sepertinya sudah biasa buatku. Aku semakin terbiasa jauh dengan orang tua. Dan di tempat ke duapun aku tidak lama.

Semuanya berubah ketika aku kembali ke Cilegon untuk kedua kalinya. Saat aku melihat temanku bersekolah. Aku pun merayu kepada orang tua akhirnya, orang tuaku mendaftarkan sekolah. Akupun melanjutkan sekolah Mts ketika umurku memasuki 15 tahun. Di saat teman-teman yang seangkatan denganku memasuki kelas 3 Mts.

Tapi, ada ketikanya apa yang kita rencanakan di luar kehendak. Allah kembali menurunkan ujian. Demi untuk melanjutkan sekolah yang baru berjalan, aku kembali menjadi pembantu dengan tidak keluar dari sekolah. Ternyata, Allah menurunkan cobaan  bersama dengan kemudahan-Nya. Aku di pertemukan dengan majikan yang baik dan penuh pengertian.

Aku menganggap majikan ku saat itu sebagai seorang single parent tak hanya itu, dia juga motivator buat ku ketika aku tidak semangat untuk belajar juga ketika aku berhasrat untuk keluar dari sekolah.

“Sekarang, memang tidak apa-apa kamu gak sekolah. Tapi, lihatlah suatu ketika nanti”. Ujarnya ketika menasehatiku. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang sampai sekarang.

Sungguh Allah memberikan kemudahan jalan buatku. Tanpa terasa aku pun mampu menyelesaikan sekolah sampai Aliyah. Meskipun ketika kelas 2 Aliyah aku harus mengikuti kakaku. Sungguh suatu kebahagiaan ketika aku lulus Aliyah. Yang terbayang di kepalaku saat itu adalah meneruskan kuliah.

Sayang sekali, keinginan ku kembali terkubur. Sama seperti keinginanku setelah lulus SD. Tak di sangka, aku kembali menjadi pembantu rumah tangga. Sebenarnya, aku berontak, hatiku menolak aku tidak mau bekerja sebagai pembantu lagi. Waktu itu, ada dua pilihan, temanku mengajak untuk jadi guru pendamping. Tapi, ibuku tidak mengizinkan meskipun aku menolak dengan berbagai alasan. Akhirnya, aku akur dengan pilihan orang tua. Kebetulan, orang tua ku kenal baik dengan majikanku yang baru. Dan dia juga teman baik dari majikan ku yang dulu.

Tatkala teman-temanku sibuk kesana kemari mencari kerja, aku sudah mendapatkan kerja dengan mudah. Tapi, ada yang membuatku cemburu saat aku bertemu dengan teman-temanku yang sibuk mengurus registrasi kuliah. Cemburu itu ku pendam, ku simpan rapat-rapat aku tidak mau kembali terluka ketika mengingatnya. Pun, tak semua teman-temanku tahu kalau aku bekerja sebagai pembantu. Hanya teman-teman dekat saja yang tahu akan pekerjaanku.

Menjadi pembantu untuk yang kesekian kalinya beragam juga perangai orang-orang yang ku temui. Kali ini, majikanku mempunyai anak umurnya baru mencecah 7 tahun, dia pun tengah hamil besar. Jadi, aku akan menjaga dua orang anak. Sungguh amat berbeda kerja kali ini. Sebelumnya, aku tidak pernah mengurusi anak kecil. Membutuhkan banyak kesabaran dan keikhlasan dalam bekerja.

Waktu bergulir dengan cepat, tanpa terasa anak yang aku asuh sudah berumur dua tahun. Itu juga menjadikan sebab, dia begitu dekat dengan ku. Adaketikanya, dia lebih akrab denganku berbanding dengan ibunya. Tak heran, ketika tengah malam dia akan berpindah tempat tidur mencariku.

Selain sibuk sebagai pembantu, aku juga terkadang memiliki kesibukan sendiri di luar. Mengikuti kegiatan-kegiatan yang aku rasa memberi pelajaran dan pengajaran buatku. Dari situlah, aku banyak mempunyai teman dan ramai kawan. Khususnya dari kalangan mahasiswa. Bergaul dan berteman dengan mereka, membuat fikiranku terbuka dan ada saatnya juga membuat imaginasi tersendiri tersendiri buatku. Terbayang juga di benaku, “Kapankah aku kuliah seperti mereka…???”

Aku mengenali seorang teman berasal dari Palembang, seorang teman yang memberikanku penawaran untuk kerja di Malaysia. Aku tergoda dengan tawarannya, meskipun masih bekerja dengan majikan, aku begitu ingin untuk pergi ke Malaysia. Izin dari ibuku, sangat susah aku dapatkan. Dengan berbagai cara dan upaya aku merayu mati-matian kepada ibuku. Aku memberikan keyakinan kalau aku akan baik-baik saja. Ibuku tetap tak bergeming. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja, akhirnya izin itu ku dapatkan.

Berbekal izin dari seorang ibu, aku akhirnya nekat untuk pergi ke Malaysia. Meskipun aku tahu majikanku terkejut dan kecewa dengan keputusanku aku tetap dengan pendirian untuk menjadi TKW di Malaysia. Sungguh pengalaman baru buatku dan, inilah kali pertama dalam keturunan keluargaku bekerja sampai ke luar Negeri. Pesan ku kepada ibu, “Bu, andaikan saya pulang tinggal nama mohon ikhlaskan ya bu…” Ibu terdiam . Satu azimat yang di ucapkan ibuku, “Nak, di manapun kau berada, bawalah kejujuran. Hanya itu yang bisa Ibu ucapkan.”

Aku tidak mau terlihat cengeng di depan ibuku. Ku simpan air mata ini, ku pendam jikalau sewaktu2 aku merindukan Ibuku.

Sampailah Aku di Negara Malaysia. Segala buruknya sudah ku persiapkan, pun ku imbangi dengan kebaikan. Aku berharap dapat majikan yang baik. Alhamdulilah, bersyukur pada Allah, ketika aku di temukan dengan majikan yang baik. Tidak seperti gambaran di kepala ku saat itu juga keluargaku.

Tak di sangka, Aku merasa mendapatkan semua mimpi. Di mana Aku ingin beklerja dengan seorang penulis. Alasannya sederhana, penulis mempunyai banyak buku. Dan majikanku seorang penulis buku. Tak hanya itu, aku juga di berikan kebebasan untuk menggunakan fasilitas yang ada. Termasuklah Intenet. Subhanalloh, sungguh besar nikmat Mu Ya Allah...

Ah, tapi, Aku masih berfikir dan memikirkan...??? Akankah, selamanya Aku jadi Pembantu...??? Rasanya tidak! Aku harus merubah arah dan menentukan langkah. Aku harus berazam bahwa, Malaysia adalah destinasi terakhir ku sebagai seorang pembantu. Ya Allah, bantulah hamba-Mu...












Komentar

  1. yuhui... banyak juga aku nulis :) semangat...!!!!

    BalasHapus
  2. Haaiii ... Ana, gimana kalau kita nulis "duet" bikin buku berdua? Salam ya untuk majikanmu yang baik hatiii ... !!! ~iMuL~

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum mbak Imul, makasih banyak dah mau mampir, mau kasih koment jadi tambah semangat hehehe... Wah, ide hebat tuh mbak. Di blog ini, insya Allah saya akan tulis macam dan ragam pembantu dan majikan. Kalau puisi dan yang lain2 saya tulis di blog spot mbak, blogspot mbak apa yah...??? makasih banyak yah mbak...

    BalasHapus
  4. Mbak Ana, makasih udah mampir di MP-ku. Terus berjuang ya. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap langkah yang akan Mbak Ana ambil di masa depan. Amin.

    BalasHapus
  5. Mba Anna, jujur ...jujur...aku kagum dengan mba, dari pengalaman hidup mba aku juga bisa mengambil kesimpulan, bahwa di balik kesulitan ada kemudahan, dan "Rahasia" Allah sungguh luar biasa, Subhanaallah...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cengengesan

Potret TKW Indonesia Di Malaysia